Selasa, 03 April 2012

ADELE - Someone Like You :"


ADELE - Someone Like You :"

oleh Qiqi Kusuma Wardhanie pada 17 Desember 2011 pukul 15:35 ·
I heard, that your settled down.
That you, found a girl and your married now.
I heard that your dreams came true.
Guess she gave you things, I didn't give to you.

Old friend, why are you so shy?
It ain't like you to hold back or hide from the lie.

I hate to turn up out of the blue uninvited.
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I'd hoped you'd see my face & that you'd be reminded,
That for me, it isn't over.

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best, for you too.
Don't forget me, I beg, I remember you said:-
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah.

You'd know, how the time flies.
Only yesterday, was the time of our lives.
We were born and raised in a summery haze.
Bound by the surprise of our glory days.

I hate to turn up out of the blue uninvited,
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I'd hoped you'd see my face & that you'd be reminded,
That for me, it isn't over yet.

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best for you too.
Don't forget me, I beg, I remember you said:-
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead", yay.

Nothing compares, no worries or cares.
Regret's and mistakes they're memories made.
Who would have known how bittersweet this would taste?

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best for you too.
Don't forget me, I beg, I remembered you said:-
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best for you too.
Don't forget me, I beg, I remembered you said:-
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yay yeh yeah

SURAT DARI ANAK HASIL ABORSI

SURAT DARI ANAK HASIL ABORSI - 

( VERSI @QIQIQOOOY ) B)

 oleh Qiqi Kusuma Wardhanie pada 3 Januari 2012 pukul 12:56 ·

ini bukan karya gue! gue sempet lihat sebentar ini di facebook . tapi gue coba buat ceritain lagi soalnya ini bener-bener nguras air mata gue , bener-bener nyentuh banget . ! tapi ini gue pake kata-kata gue sendiri ! gue cuma ngambil ide ceritanya ajaa yaa

- SURAT DARI ANAK HASIL ABORSI -

assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

teruntuk bundaku tercinta ,

Bunda ku sayang,
apa kabarmu? aku sangat merindukanmu Bunda . aku ingin merasakan di gendongmu , dipelukmu , diciummu . tapi ternyata kau lebih memilih untuk menghabiskan nyawaku , kau lebih memilih hidup tanpa aku ! janin yang telah kau buahi . yang telah kau buat atas perbuatanmu sendiri Bunda .
tapi aku berterima kasih sekali padamu Bunda , karena Bunda telah mengizinkan aku untuk tinggal dirahim Bunda , walau hanya sementara . aku berterima kasih sekali karena engkau telah menempatkan aku di dalam rahimmu yang kata Allah itu tempat paling mulia . aku senang bergulat dengan darah-darahmu disana , di dalam aku merasakan ingin rasanya aku keluar dr sini , melihat indahnya dunia ini . tapi engkau tidak sejalan denganku . kau menghilangkan nyawaku Bunda ! tengok betapa jahatnya dirimu .

Bunda , dapat salam dari Allah katanya Bunda itu orangnya cantik ya? aku yakin Ayahku juga pasti tampan kan Bunda? aku ingin sekali merasakan ada di tengah-tengah Ayah dan Bunda . ingin dikecup kalian :( karena kalian lah aku dapat terlahir bahkan dengan cara seperti ini .


Bunda , aku disini berada ditempat yang sangat indah . sangat damai disini . aku merasakan hidup disini ! tapi aku tau, semuanya tidak akan seindah ini kalau aku hidup di anatara Ayah dan Bunda .

Bunda, aku melihat ada suatu tempat tapi ini sangat jauh dari keindahan . didalamnya terdapat banyak api , bara panas . aku bertanya kepada Allah kenapa banyak orang berteriak-teriak di dalam sana? mereka semua menangis , memohon ampun . Allah menjawab : mereka itu orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat yang telah ku berikan , mereka hanya memntingan kebutuhan duniawi saja ! tidak mementingkan kebutuhan akhirat , kamu tau? Bundamu dan Ayahmu akan aku tempatkan di antara orang-orang itu ! bermandikan bara api panas . aku menjawab : kasihan mereka ya Allah , aku disini merasakan kebahagiaan kenapa kedua orang yang telah membuat aku ada di dunia ini malah merasakan kekejaman yang sangat-sanagt membuat miris hati ini , aku ingin mereka bersamaku disini ! agar mereka tau aku telah terlahir dan sangat mengharapkan kehadirannya disini :( . Allah menjawab : kamu sungguh mulia Putraku , kau bahkan tidak rela kalau orang yang telah menghilangkan nyawamu harus hidup berdampingan dengan orang-orang musyrik disana . aku menjawab : ya Allah , berkat mereka aku tercipta walau mungkin aku tau , aku hanya akan merepotkan hidupnya kalau nanti aku dibiarkan hidup bersamanya .


Bunda , apakah jika aku hidup bersamamu aku akan menjadi anak yang nakal? aku akan membuatmu menangis? aku akan ngompol di kasurmu? aku akan membuat rumah berantakan? itu alasan kenapa kamu tidak menginginkan hadirnya aku? iya Bunda? jawab yah pertanyaan ku yang ini Bunda . aku sedih kalau Bunda nyuekin pertanyaan aku ini .


Bunda , aku janji aku gak akan biarin Bunda nanti hidup bersama orang-orang yang bermandikan bara panas itu , aku janji akan membimbingmu menapaki jembatan tipis itu . pegang janjiku Bunda ! aku takkan pernah sedikitpun membencimu dan Ayahku aku mohon jaga Bunda .
Bunda, kalau nanti di rahimmu ada setitik nyawa , tolong ! jangan bunuh dia seperti apa yang kau lakukan terhadapku Bunda, biarlah dia merasakan betapa bahagianya dia dipelukmu , diciummu , digendongmu . mungkin itu hanya mimpi bagiku Bunda .



Cukup sekian surat dariku Bunda semoga Bunda mengetahui bahwa aku amat sanagt menyayangi Bunda :*
salam

- nyawa tak berdosa ( anakmu )-

Kekasih Untuk Kakakku

Kekasih Untuk Kakakku

oleh Qiqi Kusuma Wardhanie pada 22 Maret 2012 pukul 14:59 ·
Kekasih Untuk Kakakku

“Bukankah kamu dulu pernah berjanji, akan selalu menemani setiap derai air mata bahagiaku?”
Semua janji itu terasa tinggal angan yang tak akan mungkin sanggup untuk ku gapai. Kamu tau aku mengharapkanmu? Kamu tau aku menyayangimu? Kamu pun tau bahwa aku tak ingin yang lain! Hanya kamu, tapi kenapa kini kau buang semua. Kau hempas semua janji-janjimu. Aku masih ingat saat pertama kamu menanyakan jawaban hatiku atas pertanyaan hatimu. Aku masih ingat saat pertama kali kamu eratkan jemari-jemarimu di sela jemariku, kamu tau? Aku tak mudah membuang semua itu. Meskipun aku tau, kamu tak akan ingat atas semuanya. Aku pun masih mengingat saat perkenalan kita, ya cuma itu satu-satunya cara untuk mengobati rasa rindu yang tak kunjung berbalas ini. Entah bodoh ataupun tolol, aku masih merindukanmu. Akankah kamu kesini, kembali padaku dan bawa balasan rindu untukku? Aku menunggumu, masih menunggu. Walaupun aku merasa tak pernah ditunggu. Tapi tak apa, bukankah semua ketulusan tak melulu berbalas ketulusan pula?

Aku ingat saat kemunafikanmu terungkap. Malam itu, ada satu pesan singkat di handphoneku. Dari Aldy, kekasihku.
“Sayang kamu dimana? Bisa ketemu malam ini?”
Dengan senyum merekah, aku membalas pesannya.
“Bisa, kamu jemput ke rumah ya?”
5 menit kemudian balasan datang.
“Aduh maaf, kita ketemu di Restaurant kita yang biasa makan aja ya? Jam 8“
Dengan menghela nafas kecewa aku membalas pesannya.
“Yaudah, see you :*
“See you too”

Aku segera membuka lemari, melihat koleksi dress malamku. Kira-kira malam ini Aldy memakai baju apa ya? Aku segera mengira-ngira. Ya! Aku langsung mengalihkan pandanganku ke dress warna putih berpayet pink itu. Aku segera mengeluarkannya dari lemariku dan menaruhnya di kasur. Ah malam ini aku harus tampil spesial, karena jarang-jarang Aldy mengajak pergi mendadak seperti ini. Pasti dia ingin memberikanku hadiah. Ya! Aku yakin itu. Dengan senyum sumringah aku keluar kamar dengan bersenandung kecil.
Mama tengah asyik menonton tayangan gosip di televisi.
“Mah, Kak Riska sampe Jakarta jam berapa?” tanyaku kemudian duduk disamping Mama.
“Katanya sih nanti malem jam 8-an. Tapi katanya dia nanti mau ketemu sama calon tunangannya dulu, jadi gak langsung ke rumah..” jawab Mama.
“Haa? Tunangan? Sama Rudi itu mah?” aku kaget
Mama menggeleng.
“Oh iya mah, nanti malem aku mau pergi Aldy..”
“Mau makan? Dimana?”
“Di tempat biasa mah, boleh ya?”
“Iya, sayang. Asal jangan kemaleman aja ya..” jawab Mama.

Aku segera berlalu dari Mama, dan kembali lagi ke kamarku. Aku duduk dan mengambil handphoneku. Niatnya mau telepon Aldy, tapi aku mengurungkan niatku. Ya aku pendam sejenak rindu ini, rindu akan suaranya. Karena nanti malam semua rindu ini akan terbayar lunas. Aku berkali-kali menengok ke arah jam, ingin rasanya aku percepat waktu ini. Beberapa lama aku menunggu, akhirnya adzan magrib pun terdengar. Aku segera mandi dan bergegas mengambil air wudhu, seusai sholat, aku berdoa untuk kelanggengan hubunganku dengan Aldy. Tuhan, aku benar-benar menyayanginya, jadikan dia yang terakhir dalam hidupku. Amin.
Aku segera bersiap mengenakan dress putihku, dress putih selutut ini amat anggun. Semoga Aldy suka penampilanku malam ini, ku ambil wedgesku, warna merah muda. Ku pandangi sekali lagi wajahku di cermin, takut ada yang terlupa. Ku poles lagi sedikit blash on di pipiku.
“Cantik..” gumamku di depan kaca. Ku lemparkan senyuman terakhirku di kaca, kemudian segera keluar kamar.

“Maa, aku berangkat ya..” kataku pada Mama yang sedang duduk di ruang tamu.
“Di jemput Aldy?” tanya Mama.
“Enggak mah, langsung ketemu disana. Aku naik taksi aja, aku berangkat ya..” kataku sambil mencium tangan Mama dan kemudian segera keluar, karena taksi yang sudah ku telepon sebelumnya sudah menunggu.

“Pak, Resto Mawar ya..” kataku pada Pak supir.
Pak supir pun langsung menginjak gas dan langsung mengendarai taksi.
Aku mengirimi pesan untuk Aldy.
“Aku otw ya, di meja nomer berapa?”
Aldy membalas.
“18”

Singkat, padat tapi lumayan jelas. 15 menit kemudian taksi berhenti di depan Resto Mawar, aku segera membayar tarif taksi dan langsung menuju ke dalam Resto. Aku menuju meja nomor 18, ada Aldy di situ dan dia bersampingan dengan wanita. Siapa? Wanita itu duduk di depan Aldy, aku melihat punggungnya, rambutnya sebahu, lurus, sepertinya aku kenal siapa wanita itu. Aku segera menghampiri Aldy. Aldy langsung berdiri dan menyambutku, aku menoleh ke arah wanita di depan Aldy.

“Kak Riska?! Ngapain disini sama Aldy?” tanyaku dengan muka setengah kaget.
“Kamu ngapain disini?” Kak Riska balik bertanya.

Aku duduk, diam, kemudian ingat kata Mama selagi tadi sore kalau Kak Riska akan bertemu calon tunangannya malam ini pukul 8, dan sekarang dia bersama Aldy, kekasihku. Apa mungkin Aldy adalah calon tunangan Kak Riska? Aku menahan air mataku.
“Ini ada apa, Dy?” tanyaku pada Aldy.
Aldy memegang tanganku.
“Maafkan aku Risna, aku gak bermaksud untuk nyakitin kamu. Harusnya aku jujur dari awal, kalau aku sudah memiliki kekasih, Riska..”
Aku kaget,
“Ini kakakku, Dy! Dia kakak kandungku!”
Kak Riska menggenggam tangan kiriku,
“Kakak sama sekali gak tau, kalau Aldy ini pacar kamu, dek..”
Ku hempaskan tanganku dari genggaman Kak Riska, ku tarik nafas perlahan. Ku coba tahan air mataku yang mulai menetes.

“Gak lama lagi, aku akan ngadain acara pertunangan sama Riska. Dan aku nyuruh kamu ke sini, ingin menyelesaikan hubungan kita, Risna. Maafin aku..” kata Aldy berlutut.

Tanpa menunggu waktu, aku langsung berdiri dan meninggalkan Kak Riska dan Aldy. Aldy, sungguh amat menyakitkan saat aku tau bahwa kamu telah lebih dulu menjalani hubungan dengannya, kakak kandungku. Tapi aku tak boleh egois, kalau memang Kak Riska berhak mendapat kebahagiaan dari Aldy, aku akan merelakannya. Walaupun berat , aku harus menerima.
Malam ini, acara pertunangan itu di langsungkan. Aku enggan hadir, aku memilih untuk berdiam diri, disini, di kamarku. Ku tuliskan semua sakit yang dulu ku rasakan, walaupun aku tau semua itu percuma.
Sekarang Aldy dan Kak Riska sudah bahagia. Kak Riska meminta maaf, aku memaafkannya. Meskipun sebenarnya hati kecilku belum memaafkan. Maafkan aku kak, ini teramat sakit. Butuh waktu lama untuk menyembuhkannya, bukan berlebihan aku berbicara sesuai kenyataan.
Aldy pun meminta maaf padaku, sama seperti Kak Riska. Aku memaafkannya, masih ada sedikit kesal tapi bukan karena ia telah bertunangan dengan kakakku. Melainkan karena kepandaiannya menyimpan kemunafikan.

Ada Kamu dibalik Teddy Bear

Ada Kamu dibalik Teddy Bear

oleh Qiqi Kusuma Wardhanie pada 22 Maret 2012 pukul 16:07 ·

“Kenapa harus ada pertemuan kalo akhirnya di pisahin?”
Hanya satu pertanyaan itu yang terus ada di pikiranku, kenapa harus ada perpisahan ini? Perpisahan dari pertemuan yang amat indah. Ya Tuhan, lebih baik tak usah kau pertemukan aku dengannya jikalau hanyalah perpisahan yang terjadi. Apakah kau mempunyai maksud lain dari semua kehendakmu? Tuhan, beri aku jawaban atas semua ini..

“Kita putus..”
Satu pesan dari Rafa malam ini, ya satu . Satu pesan saja di hari ini, satu-satunya dan gak akan pernah ada  lagi pesan darinya. Aku masih diam, tak bicara. Hatiku kacau, pikiranku tak menentu. Tuhan, inikah yang kau bilang “Cinta” ? Inikah yang kau bilang “Janji” ? Mengapa begitu sakit, mengapa begitu menyiksa?  Aku masih terpaku, terdiam menatap pesan dari Rafa.
“Kita putus..” 2 kata itu amat sangat membuatku di rundung sedih, gundah, kecewa. Apakah semua yang di awali dengan kebersamaan harus berpisah hanya dengan 2 kata menyakitkan itu? Aku mengacuhkan pesan dari Rafa, tak lama Rafa mengirim pesan lagi,
“Jangan ganggu gue lagi. Gue mau jauh dari lo..”
Cukup! Cukup kirimi aku pesan jika hanya ingin membuat hatiku semakin hacur. Ya Tuhan...

“Lo putus sama Rafa, Mit?” tanya Hana ketika di sekolah.
“Lo tau dari mana, Na?” jawabku dengan suara kecil.
“Gue liat status hubungan Rafa di facebook. Statusnya single. Ada masalah apa Mit? Bukannya selama ini lo baik-baik aja sama dia?” lanjut Hana.
“Gue gak tau Na, udah ya gak usah di bahas. Gue pusing, Na..” jawabku sambil menundukkan kepalaku di meja kelas.

Ternyata Rafa serius. Dia benar-benar ingin jauh dariku, ada apa? Kenapa harus secepat ini? Aku saja belum tau kalau dia mengganti status hubungannya di facebook. Ah pagi yang tak menyenangkan. Menangis lagi...
Sekarang rasanya malas membuka facebook. Entah kenapa..
Aku sekarang sendiri, Rafa pergi dariku..

Segampang itukah mengucap kata “putus” ? Tak pernahkah ia ingat semua kebahagiaan yang pernah ada? Semua canda tawa yang pernah terlukis? Semua kenangan itu. Aku masih mengingatnya, masih merindukannya, bahkan aku masih menganggapnya pacar..
Maafkan aku yang terlalu sulit membuang kenangan ini, andai aku mempunyai hati seperti hatimu yang dengan mudahnya membuang semua kenangan indah itu..
Beri aku jawab atas semua ini, kenapa? Kenapa hanya aku yang masih berharap diatas semua kemunafikan ini? Kenapa harus ada sayang berbalas tangis?
Rafa, ini sakit. Terima kasih...

Air mata masih mewarnai mataku. Hana berusaha menenangkanku.
“Jangan nangis lagi Mita. Percaya ya Allah udah mempersiapkan seseorang yang lebih dari Rafa...”
Tapi percuma saja. Rafa sudah terlalu dalam masuk ke hatiku. Ini salah siapa? Ini salahku, yang terlalu dalam memendam rasa. Rafa, kenapa kamu pergi tanpa alasan? Apa ada wanita lain? Kalaupun ia, aku akan merelakan kamu untuknya jika ia dapat menyayangimu lebih dari aku..

***
Rafa, Rafa dan Rafa...
Dua hari setelah kejadian itu. Air mata masih setia menemaniku, tertetes. Rafa, tengok berapa banyak kebahagiaan yang telah kau teteskan dan telah kau lunaskan dengan air mata ini. Setetes air mataku adalah setitik kebahagiaan yang telah kau lukai...
Malam itu, aku masih sendiri..
“Hei kamu...”
Terdengar suara seseorang entah siapa, sepertinya ia menyapaku..
Aku menoleh ke kanan, kiri, dan belakang. Tak ada siapa-siapa, “suara siapa itu?”

Mungkin imajinasiku. Suara itu terdengar jelas, memanggilku. Ah apa ini hanya bayang-bayangku saja? Yang masih terpikirkan Rafa?
Kejadian ini terjadi bukan hanya sekali, setiap malam saat aku sendiri aku masih mendengar panggilan-panggilan itu.  Aku belum terlalu serius memikirkan panggilan aneh itu, aku masih menganggapnya imajinasiku. Sampai pada suatu ketika, aku di kagetkan dengan tulisan-tulisan yang tiba-tiba ada di buku harianku.
“Hah? Tulisan siapa ini?”
Aku membaca semua tulisan-tulisan yang ada di buku harianku.

“ Aku masih memperhatikanmu, bahkan aku tau apa-apa saja yang kamu sukai. Pada saat ketika aku melihatmu bercermin, aku terkesima sungguh aku terpesona akan keindahan wanita yang ada di cermin itu, maaf aku lancang. Satu yang ku tau, aku masih menyukaimu”

“Siapa pun orang yang menulis ini, dia ada di kamarku. Dia memperhatikanku..” gumamku
Hah? Apa? Di kamar? Siapa dia? Dia tinggal dimana? Di kamarku? Aku masih terdiam dan memperhatikan tulisan asing ini. Aku kembali menyapu pandanganku ke sudut-sudut kamarku. Tak ada siapa-siapa di kamar ini selain aku. Apa ini tulisan kakakku? Dia kan iseng, tapi apa iya dia se-iseng ini padaku? Ah ya,udah aku gak mau terlalu jauh memikirkan hal konyol ini..

“Na, masa ada yang iseng nyoret-nyoret buku harianku..”  kataku pada Hana yang sedang main ke rumahku.
“Orang iseng? Coret-coret apa Mit?”
Aku pun menunjukkan semua coretan-coretan konyol itu. Hana terbengong-bengong, dan bertanya-tanya, siapa ini? Tapi Hana bilang, itu hanyalah orang-orang iseng.
Aku pun melupakan itu..
Dua kali, tiga kali kejadian ini berkelanjutan. Aku semakin merasa ada yang memperhatikanku tanpa sepengetahuanku.
“Siapa pun orang iseng itu, ia pasti memperhatikanku. Dia tau apa-apa aja kesukaanku. Mungkin jika nanti aku tau orang itu, aku akan memperkenalkannya pada teman-temanku..”
Hal aneh itu terjadi lagi, satu lagi kertas di buku harianku diwarnai tulisannya. Dan kali ini benar-benar membuat aku tercengang.
“ Aku tau saat kamu sedih karena Rafa. Rafa gak benar-benar ninggalin kamu, dia cuma lagi pengen sendiri, suatu saat nanti dia butuh kamu Mita. Kamu harus percaya itu..”
Siapa ini! Kenapa membuatku benar-benar penasaran.
Satu pesan masuk di handphoneku, “Tania” . Adiknya Rafa.  Ada apa dia mengirimiku pesan?  Dengan penuh rasa ingin tahu, aku pun membuka pesan dari Tania yang isinya,
“kak, kakak dimana? Kak Rafa koma kak. Dia masih belum siuman sampe sekarang, kakak aku tungguin disini, tapi kakak gak dateng2. Kakak kesini dong kak L aku mohon. Aku dirumah sakit Harapan, ke sini ya kak please.”
“Hah? Rafa koma? Sakit apa?” tanyaku dalam hati
Tanpa membalas pesan Tania, aku langsung pergi ke rumah sakit Harapan. Ya Tuhan, apa yang terjadi sama Rafa. Tolong jaga nafasnya ya Tuhan..
Saat di taksi, Tania meneleponku.
“Halo kak, dimana? Cepet kesini..”
“Iya sayang, aku otw ke sana. Kamu tunggu di depan ya..”
“Iya kak, cepet ya..”
Klik.
“Nih pak, kembaliannya ambil aja. Makasih ya..” kataku pada supir taksi yang memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit harapan
“Makasih mbak..”
Aku langsung berlari dan ku lihat Tania sudah berdiri di depan ruang UGD. Aku segera menghampirinya.
“Kak,ayo cepet lihat keadaannya Kak Rafa..” katanya sambil menarik tanganku
Aku menurut.
Di dalam ruang UGD.
“Astagfirullah.. Rafa kenapa? Ya Tuhan..” kataku sambil mendekat ke arah Rafa
Rafa tertidur.
“Rafa kenapa Tania?” tanyaku pada Tania
“Kak Rafa kecelakaan kak, kepalanya bocor. Dia terkena gegar otak kak, dari tiga hari yang lalu dia belum sadar..”
Aku menangis.
Ku lihat di meja kecil yang ada di situ terdapat sebuah buku.
“Itu bukunya Kak Rafa yang aku temui di kamarnya kak..”
Aku membacanya. Dan apa yang aku lihat, cara menulis  di buku itu sama persis seperti apa yang ada di buku harianku. Ya tulisan aneh itu. Ya Tuhan, ada apa ini? Apa rencanamu kali ini?
Dibuku itu tertulis..

Mita, putri kecilku.Maafkan aku, aku terpaksa menyuruhmu pergi dari hidupku. Aku tau kamu sayang aku, dan aku pun lebih menyayangimu. Aku merasa, sayangmu terlalu berarti. Aku takut akan melukai hatimu, dan bila saat itu terjadi, kamu pasti akan menangis. Aku gak siap kalau harus melihat kristal-kristal-kristal itu tertetes, itu terlalu berarti jikalau kamu teteskan untukku, Mita.. Aku harap, setelah kamu membaca ini, aku sudah kembali ke pangkuan-Nya. Aku gak akan buka mata lagi, karena aku gak mau lihat air matamu yang mulia itu. Mita, sekali lagi maafkan aku. Jangan takut, aku akan tetap ada, aku ada di sudut kamarmu, dekat boneka teddy dariku. Aku ada disitu saat kamu sedang memikirkanku. Maaf juga aku sudah membuatmu penasaran akan tulisan-tulisan aneh itu. Aku hanya ingin kamu tau, aku masih memperhatikanmu walaupun aku sudah berusaha keras untuk melupakanmu. Aku tau dan aku yakin itu mustahil. Sekali lagi aku mohon, jangan kamu teteskan air mata itu ya? Aku sedih kalo lihat kamu sedih. Love u Mita J 

Aku langsung menoleh ke arah Rafa. Dan ternyata Rafa sudah tak bernyawa. Aku menangis, Tania menenangkanku.
“Rafa bangun..” bisikku di telinga Rafa
“Kak, ternyata Kak Rafa nungguin Kak Mita kesini buat baca apa yang ada di buku itu..”

Ku kecup keningnya. Tunggu aku disana ya. Aku akan nyusul kamu secepatnya agar tak ada air mata lagi tertetes dari mataku. Itu kan yang kamu mau?
Tuhan, rencanamu kali ini benar-benar membuat aku terkagum-kagum. Kau membawa Rafa kembali padamu. Aku tau sayangku tak berarti apa-apa jika dibanding sayangmu pada Rafa..

Siang itu Rafa di makamkan. Berat rasanya, sangat berat untuk merelakannya. Matanya tertutup, senyumnya tetap mewarnai jasadnya.  Selamat jalan, Rafa. Aku selalu menyayangimu...
Malam ini, aku terdiam. Sambil terus memandangi boneka teddy. Berharap Rafa ada di balik situ, memperhatikanku yang sedang memperhatikannya...