Sabtu, 25 Februari 2012

DITINGGAL SOSOK IBU

DITINGGAL SOSOK IBU
Oleh:  Siska Sudjatnika, S.E

Pagi itu saya terbangun melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00, “ aduh aku kesiangan untuk berangkat kerja”… (sambil menggaruk garuk kepala). Nene pun dari subuh sudah membangunkanku, aku langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap siap ke kantor.

Alahmdulillah, pagi itu nenek sudah menyiapkan aku sarapan.setiap pagi kita selalu berbincang bincang.

(Nene yang mengurus aku dari umurku 10 bulan, sampai aku lulus sarjana S1. Orang tua ku sudah berpisah, mama sudah menikah dan papa pun sudah menikah dengan mempunyai putra 1 dan putri 1.)


Cerpen Kehilangan Ibu
Setelah berbincang bincang, akupun berangkat ke kantor dengan menggunakan motor. Aku sibuk dengan pekerjaanku sampai akhirnya aku pulang kerja. Datang kerumah “mih, bukain pintunya”
Mamih pun membuka pintu. Aku senang masih bisa melihat senyum nya, aku pun ke kamar dan ganti baju.

Setiap hari rutinitas begitu, sampai pada akhirnya pada bulan puasa hamper mau lebaran 2011. Nene ku jatuh sakit “ mih, gmn sekarang keadaannya?” aku menghampiri nene sedang terbaring di tempat tidur.

“ mih dirawat yah di rumah sakit , biar cepet sembuh”, mamih pun menjawabnya dengan suara lirih” tidak mau, mamih pengen tetep di rumah”.

Aku sedih melihat nene terbaring ditempat tidur, ingin menangis hati ini!aku tetep kuat menghadapi semuanya, nene satu”nya yang aku anggap sebagai mama.

Suatu ketika malam hari nene akhirnya dibawa ke rumah sakit dia berkata “ sis, tolong jaga semuanya yah? Mamih mau pergi sebentar lagi mamih mau meninggal, jaga rumah baik- baik”.

Aku sedih mendengar hal itu, nene pun dibawa ke rumah sakit. Setelah 2 minggu kemudian, nene tiba di rumah. “ Alhamdulillah, akhrinya mamih sembuh” (berbicara dalam hati).

Setelah sembuh nene segera menyiapkan semua persiapan syukuran untuk berangkat haji,karena tanggal 10 oktober 2011 mamih berangkat. Tanggal 25 september 2011 pagi itu mamih sudah teriak teriak untuk diberesin “ sis, beresin beresin itu”.

Akupun menjawab” aduh mamih pagi- pagi udah riweuh, santai atuh.. masih lama juga”
Aku tidak menyangka kalau hari itu adalah hari terakhirku bertemu nene, aku menyiapkan semuanya termasuk makanan, karpet dll nya.

Acara pun dimulai, aku melihat mamih terlihat pucat.” Mih, udah makan belum?”aku menyapa nene.

“ nanti aja”dengan nada rendah neneku menjawabnya.

Syukuranpun berlangsung, selesailah pukul 13.00, kami pun semua keluaraga beristirahat. Dan anehnya nene ku ingin tidur di kamarku, tiba- tiba pukul 14.00 nene manggil aku. Aku tertidur di lantai ruang tamu.

Aku terbangun ”ada apa mih?” Aku kaget melihat mamih “mih kenapa kok badan mamih gemetaran begini” aku berkata sambil menangis.

Mamih menyampaikan sesuatu ”mamih mau sekarang meninggal, tolong jaga semuanya”

Aku berteriak ” Rian, Anda, Ramdan…. Tolongggggg Siska”.

Mereka pun dating dengan mata merah karena terbangun dari tidur ”ada apa teh?” kata Rian.

Aku hanya bias menangis melihat nene ku kritis. Melihatnya antara hidup dan mau menghembuskan nafas yang terakhirnya, semua keluargapun berkumpul termasuk pamanku. Semuanya menangis. Kita bersama – sama membantu nene untuk mengucapkan “ laailahaillah… laailahaillah…” seterusnya.. Akhirnya nene pun meninggal pukul 15.15 tepat Ashar tiba.

Itulah akhir dari semuanya, aku benar – benar kehilangan. Sosok ibu pun telah hilang. Setelah beberapa minggu kemudian, aku pun pindah rumah. Untuk menjadi seorang yang mandiri. Sampai hari ini, aku bisa menjadi seorang perempuan mandiri tanpa adanya sosok ibu.
***

@};- BY: Siska Sudjatnika, S.E
Tasikmalaya, 22 Februari 2012

Ketika Cinta Harus Pergi

Ketika Cinta Harus Pergi
oleh: Ayu Sulastri

Perkenalan ku padanya memang tidak disengaja. Sungguh semua ini diluar dugaan,, betapa tidak...!! Ternyata Dia adalah adik dari teman Abang ku sendiri,,, ehm.... cukup mengejutkan, Dia mengenal Abang ku, dan Aku pun mengenal Abangnya,,. Tapi anehnya kami tidak saling mengenal. Sebuah Perkenalan melalui HaPe... Aku sering SMS-an dan berbagi cerita dengan Dia.


Pendek Cerita... kami pun berjanji untuk ketemuan. Sesuatu yang di tungggu-tunggu pun tiba. Sosok bertubuh sedikit kecil dan berpakaian sederhana menghampiriku, (persis seperti penampilan abangnya...)

Awal yang baik, kami melanjutkan pertemanan kami dengan sering jalan bareng. Waktu pun terasa cepat berlalu. Dia pindah keluar kota, karena mendapat pekerjaan baru. Aku pun sudah jarang bertemu dengannya. Kalau pun ada,, itu hanya sesekali... bila dia libur dan pulang kerumahnya.

***
Ada suatu malam,,, Aku merasa galau, karna berakhirnya cinta ku pada pacar ku. Ku putuskan untuk menelponnya, karena aku butuh seseorang untuk curhat. Dalam perbincangan itu aku menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, tapi yang malah mengejutkan ku.. cerita ku tidaklah se-Ironis ceritanya. Aku pacaran selama 16bln saja kesedihan ini bisa berlarut-larut,, tapi dia malah lebih lama, berpacaran selama 5 thn, tapi tetap tegar menghadapinya.

Aku tersentak sadar,, betapa dia adalah lelaki yang sabar, dia hanya berkata “mungkin dia bukan jodoh mas..”

Hhmm.... rasa damai saat aku mendengar ucapannya, ku rasa kesedihan ini pun harus ku akhiri, memulai cerita yang baru dan semangat yang baru. Ku coba tanya mengapa mereka sampai putus, mengakhiri kebersamaan 5 thn dengan begitu saja. Tapi dia hanya menjawab “berbeda pendapat ajah,, dan kami sudah memutuskan pilih jalan masing-masing”

Sungguh jawabannya itu membuatku merasa tidak puas,, ingin rasanya ku tanya lebih dalam, tapi itu tidak mungkin, aku tidak boleh bertanya terlalu detail,, nanti juga aku akan tau semuanya bila aku mau bersabar.

Sejak mengenalnya, aku selalu ingin tau tentangnnya, ku cari informasi dimana saja, dengan siapa saja, demi mendapatkan sesuatu informasi tentang dirinya, salah satu kabar yang aku tau adalah dia beragama Katholik. Sungguh suatu yang mengejutkan bagi ku... dan mungkin inilah penyebabnya mengapa mereka putus, pasti tidak salah lagi semua itu karena agama.

Aku masih ingat betul 8 April 2011 aku bertemu dengannya disebuah kost Adik sepupuku, dan kini waktu kian berlalu,, perkenalan ku dengannya semakin akrab, saling berbagi perhatian, saling memberi semangat, sebagai tanda kami saling membutuhkan.

Aku mulai rindu, jika lama tak bertemu, aku mulai gelisah bila sms nya tak kunjung menghampiri inbox ku. Ada apa sebenarnya yang terjadi padaku, aku mulai menggantungkan keceriaan ku padanya. Ditambah lagi dia memberi ku sebuah kado yang disaat Ultah ku, dan aku merasa semua itu sangat spesial. Semakin lama rasa ini semakin membukit,, rasa ini sungguh sulit untuk diungkapkan,, aku hanya tidak ingin jika jawaban dari pernyataan hati ku ini adalah CINTA. Aku takut.... aku takut bila Jatuh Cinta padanya.

***
Malam tu malam Minggu,, tiba-tiba Hape ku berdering dan tertulis “ Akis Calling....”
Eemm....hati ku langsung berdetak kencang,, ingin secepatnya ku pencet tombol hijau,, tapi aku perlu waktu sedikit untuk menenangkan hati agar tidak gemetar saat mengangkat telponnya.
Penjang lebar kami bercerita,, walau kadang-kadang terdiam, karna mungkin dia tidak terlalu pandai bicara,, dia kemudian bertanya “nanti hari minggu adek kuliah ya..?”,, “iya mas... emangnya kenapa.?” Jawab ku.

“Enggak,, mas mau ngajakin keundangan ntar tanggal 20 november, Mantan mas nikah...” betapa aku terkejut mendengarnya, masa sih bisa secepat itu pikir ku, baru Februari kemarin mereka putus,, kenapa November ini sudah mau nikah mantannya, ribuan tanda tanya muncul di benak ku. “ mungkin adek nggak bisa ya..?” ucapnya lagi.. tapi aku langsung menjawab “ adek pengen ikut mas, adek pengen kesana, bisa kok... nanti juga nggak banyak tugas lagi, jadi adek bisa ijin dulu minggu itu..” Aku tidak mungkin melewati kesempatan itu, apa pun akan ku lakukan agar bisa ikut dia.
Keinginan itu pun terwujud, dikampus nggak ada dosen, aku pun tanpa pikir panjang langsung pulang, tidak lama kemudian dia pun datang kerumah ku untuk menjemputku, walau cuaca kelihatan mendung, tapi tidak membuat semangat ku lemah untuk ikut dengannya.

Tak perlu berlama-lama lagi, aku berangkat, mungkin sedikit nekad, awan putih berubah menjadi gelap, walau kami berharap hujan tak hadir, tapi kuasa Tuhan tidak lah dapat ditahan, di perjalanan kami kehujanan, kami berhenti disebuah warung untuk menghindari hujan lebat, hampir 1 jam kami disitu, hanya terdiam, sambil terucap doa semoga hujannya berhenti.

Yacchh,,,, sepertinya hujan pun mengerti, meski gerimis mengusik, kami tetap melanjutkan perjalanan, eemm... namanya juga musim hujan,, di perjalanan selanjutnya kami kehujanan lagi, kemudian kami berteduh lagi.

Aku ingin cepat sampai, baju ku juga sudah basah, untuk apa berteduh, aku memaksanya untuk melanjutkan perjalanan kami, akhirnya dia mengikuti ingin ku, Huuuuftt.... perjalanan yang melelahkan,, kesabaran ku seperti membara, aku ingin tau dimana rumahnya,” mengapa jauh sekali..??” ucap ku dalam hati. Jalan rusak dan berliku, turun naik tanjakan, hingga kebun karet pun kami lewati. Hati ku banyak berkata “ Ya Allah... bagaimana mungkin pengorbanannya yang begitu ikhlas harus dibalas dengan sebuah kekecewaan, 5 thn untuk malam minggu bersama pasti sangat melelahkan baginya, mengapa dia begitu kuat..??” Hahh.... keadaan ini membuat ku semakin terkagum padanya.

Tiba-tiba dia berkata pada ku “ pasti nanti adek dibilang pacar mas,,,he..”

Aku langsung menjawab “ ya nggak apa apa lah mas, biarin aja,.” Aku berusaha cuek dengan perkataan itu, walaupun sebenarnya sangat mengagetkan ku.

Akhirnya tiba juga di tempat resepsi, karna hujan tamu pun tidak terlalu ramai, tapi aku tau... orang-orang di sekililing itu memperhatikan ku.

Yupz... perkataannya itu benar, aku dianggap pacarnya, hhmm... terpaksa aku harus mengikuti persandiwaraan ini, Orang tua manta nya, keluarganya, temannya, semua beranggapan begitu. Bahkan sebuah perkataan yang sempat membuat ku terkejut adalah disaat ibu Mantannya berkata “ Oo,,, ada akis... hhmm,, sama cewek yaa,, tapi kok yang ini pake jilbab.?? Yaa... nggak apa apa lah, mungkin yang ini berjodoh”

aku hanya tersenyum, walau dalam hati ku keheranan mulai menghampiri, aku tau jawabannya, Ini lah jawaban atas pertanyaan yang selama ini ku simpan,. Tepat sekali,, mereka harus mengakhiri kebersamaan mereka karena Keyakinan.

Tak lama kami pulang,, berpamitan dengan Pengantin, lalu diminta foto bareng, Mungkin akan menjadi kenangan yang Abadi....

Saat perjalanan pulang,, betapa aku sangat mengerti posisinya, aku tau perasaannya, tidak mudah menerima semua ini dengan bersembunyi dibalik senyum kesederhanaanya. Ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya, agar hatinya yang berdegub kencang dapat meredam, aku tidak tau harus berbuat apa, sebisa mungkin aku harus bisa membuatnya kuat untuk melewati semua ini.

Berkali-kali ucapan terima kasih dia ucapkan untuk ku, karna sudah bersedia menemaninya dalam kisah masa lalunya ini, tapi aku hanya bisa tersenyum, aku takut salah berbicara yang hanya akan menambah lukanya, tapi tak henti hati ini selalu berkata diam-diam “makasih mas untuk hari ini, aku sangat bahagia bisa ikut bersama mu, menjadi pacar sandiwara mu, menjadi sosok cewek tegar digegalauan mu,,meski hati mu sekarang sedang bersedih, maafkan aku,,, jika aku tak bisa berbuat lebih untuk mu”

Hhm... aku hanya mampu mengucapkannya di hati, berbisik pelan untuk diri sendiri, berharap dia tidak mendengar.

Usai mengantar ku, dia langsung pamit pulang... aku tau betapa lelahnya dia, aku saja sangat merasakannya, apalagi dia yang harus melanjutkan perjalanan keluar kota untuk kembali ketempat kerjanya dengan kekecewaan. Kekhawatiran ku pada keadaannya amatlah dalam, aku takut terjadi apa-apa dengannya, tak lupa ku ucap pesan untuknya “ hati-hati dijalan mas,, kalau uda nyampe rumah sms adek ya..?” lalu senyum ku menghantarnya.

Setelah 1 jam lebih berlalu, dia mengirim sms pada ku, dia berhenti untuk istirahat, aku coba membalas smsnya dengan kata-kata yang membuat dia tetap semangat, lalu dia membalas sms ku “Makasih atas semangatnya. Mas harus segera bangkit lagi kayaknya, memang sulit kalau sudah berbeda, konsekuwensinya mas harus menerima akibatnya, tapi nggak apa-apalah... mas dapat pelajaran dari semua ini, memang sulit belajar ilmu ikhlas sama sabar”. Hanya menghela nafas yang mampu ku lakukan setelah membaca smsnya.

***
Setelah perjalanan itu,, aku mulai dihantui berbagai keraguan, hati selalu gelisah, tidak tenang. Bahkan aku merasa bahwa dia adalah sosok yang memiliki peran penting dalam hidup ku. Bahkan setiap malam aku selalu memeluk boneka yang dihadiahkannya untuk ku sebelum tidur, sesekali airmata ku mengalir tanpa aku sadari, betapa berat perasaan ini, aku tak sanggup menahannya. Aku sangat menyayanginya, tapi aku tidak bisa memilikinya, aku takut rasa ini hanya akan mengulang kesalahan yang pernah dibuatnya, aku takut membuatnya kecewa lagi.

Seperti biasanya, aku selalu ber-sms dengannya, tak pernah bosan walau yang tertulis hanya itu-itu saja. Entah mengapa topik sms kami mengarah ke arah serius.

“Mas capek, biasanya kalau mas kecapek’an kayak gini, mas ingat sama orang yang mas sayang, mas seneng kalau diperhatikan..” itu isi sms yang dia kirim pada ku, aku pura-pura ingin tau siapa orang yang dia maksud.

“eemm.... uda ada yang baru ya..?? kok nggak bilang sih..?”

“nggak ada yang baru mas,,, mas kayaknya masih trauma lah pengen pacaran lagi... apalagi yang beda agama,”

Adrenalin ku berpacu kencang, sungguh isi sms itu telah meruntuhkan gunung harapan ku. Selama ini aku yakin dia juga menyayangi ku, dan aku yakin bahwa kami pasti bisa bersama nantinya, tapi semuanya harus terkubur, aku sadar, Agama bukan lah hal sepele diantara hubungan kami ini.

Airmata ku mengalir, kian deras,, membasahi seluruh wajahku, batin ku pun ikut meratap..”Ya Allah,, cobaan apa lagi ini.? Mengapa Engkau harus mempertemukan ku dengan dia, bila hanya luka jiwa yang akan terukir, Ya Allah... apakah dengan cara ini Engkau mengajari ku untuk bersabar, mengapa aku selalu sulit mendapatkan cinta yang ku ingin, aku sangat menyayanginya, sangat mencintainya, tapi mengapa jurang antara kami sangat lah berbahaya, Ya Allah... tunjukkan aku jalan terbaik-Mu..”

Aku hanya bisa membalas “ iya lah mas,,, Tuhan pasti sudah merencanakan semuanya, makasih atas semuanya mas, makasih juga uda ngasih boneka yang selalu ada buat adek, he..”

“iya,,,itu semua karna mas sayang sama adek, untuk sekarang adek yang ngerti mas..”

Aahh.... kata Sayang yang dikirimnya, mungkin tak berarti baginya, tapi bagi ku,, kata-kata itu seperti ombak besar yang meruntuhkan bendungan airmata ku, sekencangnya aku menangis, entah apa maksud dari semua ini.

Setelah itu lah,,,, aku sadar apa yang harus aku lakukan, memang menghindar bukan jalan yang baik, tapi aku harus pandai memposisikan diri, agar perasaan ini tidak terlalu mendalam.

Waktu terus berlalu, kedekatan ku padanya semakin akrab, hampir mirip dengan orang yang sedang berpacaran. Liburan Natal, dia mengajak ku jalan-jalan, tapi cuaca selalu hujan, jadi susah untuk kami bertemu, ada pun Cuma sebentar, saat itu aku datang kerumahnya waktu hari pertama Natal, itupun dengan baju lusuh dan basah karna kehujanan, aku hanya sebentar bertemu dengannya, tidak sedikit pun bisa menghilangkan rindu ku.

Entah mengapa waktu seakan mengijinkan kami untuk jalan bersama, hari itu tidak hujan lagi, cuaca sangat bagus. Tanpa perencanaan, dia menjemput ku. Kami jalan bersama mengelilingi kota, ada suatu tempat yang ku sukai saat dia pertama kali membawa ku jalan-jalan, tempat itu adalah “Bukit Bintang”, tapi sayang, dulu kami ketempat itu waktu siang hari, aku hanya bisa melihat kota yang dipadati rumah penduduk dan gedung-gedung saja. Aku merasa tidak puas, lalu aku berencana akan kembali bersamanya ketempat itu pada malam hari. Dan keinginan ku itu diwujudkannya, selesai makan dan keliling kota, aku dibawanya ke Bukit Bintang.

Aku terkejut melihat keindahan kota pada malam hari, diatas bukit itu aku bisa melihat kota yang dipenuhi dengan lampu-lampu, dan langit yang dihiasi bulan bersama bintang-bintang. Sungguh pemandangan yang indah dan romantis, aku menikmatinya dengan damai, lirih dalam hati ku pun berbisik pada Sang Pencipta “ Ya Allah.... Engkau lah yang tau akan takdir ku, aku hanya bisa menunggu jawaban ini dengar rasa sabar melewati waktu, malam ini aku bersamanya, aku merasakan kedamaian yang tak ingin ku lepas, Ya Allah.... jangan buat orang sebaik dia merasakan sakit hati atau kecewa karna perasaan ku”. Beberapa saat kemudian dia pun mengajak ku pulang, tentu saja kami tidak boleh berlama-lama, karna dia harus mengantar ku pulang.

***
Kembali lagi,, keraguan mengusik ku, aku butuh suatu kejelasan darinya, sebenarnya seberapa penting diri ku baginya. Tapi aku harus menunggu waktu yang tepat, agar dia tidak merasa tersinggung atas pertanyaan-pertanyaan ku. Dan aku memutuskan, bahwa waktu yang tepat adalah Malam Tahun Baru. Karna aku akan menghabiskan malam itu bersamanya.

Yeaachh.... semoga semuanya bisa dibicarakan dengan baik, aku dan dia pasti akan mengerti dengan keadaan ini. Aku juga tidak mungkin terus berharap padanya, sedangkan akhirnya aku juga tidak tau. Haruskah ku korbankan waktu yang panjang demi sebuah jawaban yang tidak begitu jelas?


Rasanya semua ini tak sanggup untuk ku pendam sendiri, banyak yang menyukai ku tapi semuanya ku tolak, hanya karna demi menghargai perasaannya. Tapi... apakah adil bagi ku, bila aku harus menutup diri dari orang-orang yang mengajak ku untuk serius. Sedangkan yang ku jalani sekarang juga tidak jelas arahnya.

Aku ingin membuat semua ini menjadi nyaman, aku juga tidak akan berpasrah diri pada Takdir Tuhan, walau bagaimana pun rasa sayang ku padanya, Agama ku tidak akan aku korbankan demi cinta ini.

***
Ku pikir malam Tahun Baru ini adalah moment yang tepat untuk kami saling mengungkapkan perasaan. Tapi ternyata tidak lah seperti yang ku harapkan. Dimalam itu kami hanya membahas tentang perasaan yang tidak bisa saling memiliki. Aku sangat merasa kecewa atas pernyataannya, bahwa hubungan kami memang tidak memiliki arah, bahkan dia pun tidak berani memberikan suatu keputusan tentang kedekatan kami ini.

“Mas... tidakkah kau mengerti perasaan ku sekarang..? aku sangat membutuhkan kejelasan dari hubungan ini, betapa perihnya aku, harus berjalan diatas kerikil yang tajam. Aku ingin langkah ku terarah, memiliki tujuan, sehingga aku dapat berpegang kuat pada tekad ku, saat badai mengguncang keyakinan ku...”

***
Setelah event itu, aku merasa bahwa aku harus membuka mata ku dengan lebar, agar bisa melihat pandangan dengan terang. Aku takut bila saat tekad membulat, gelap datang menyapa, hingga membawa ku pada arah yang sesat.

Aku memutuskan untuk memendam rasa cinta yang begitu dalam ini di danau hati yang letaknya tersembunyi dari arah mata manapun. Ku biarkan air mata ini mengalir membuat dalam genangannya, kan ku jaga sampai pada waktu yang tak terbatas, karna tidak ada yang bisa menggantikan keistimewaannya dihati ku.

Aku tau bagaimana perasaannya, begitu sulit dia harus menjalani semua ini hanya dengan 2 mata dan 1 hati. Ku yakin dia butuh sandaran yang lain untuk menenangkan jiwanya yang dilanda probelam kehidupan. Walau sulit bagi ku juga berada disamping mu, tapi ku putuskan akan selalu menjadi pendengar baik mu disaat kau butuh seseorang untuk mendengar keluhan mu.

“ mas.. maafkan aku, aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Mungkin kita bukan lah sepasang jodoh, Tuhan sudah punya rencana lain dari pertemuan kita ini, ku harap kau pun mengerti mas, dalam hubungan ini kita sama2 diposisi sulit. Semoga mas masih bisa menemukan seorang wanita yang sesuai dengan keinginan mas. Cinta ku berhenti disini mas, Cukup sampai disini, ku telah memahami waktu dan takdir, bahwa waktu dan takdir tak mengijikan kita menjalin sebuah perasaan yang semakin jauh. U are special someone for me... everyday..”
*****

LOVE or LOVE

LOVE or LOVE
By: Early Al_Fauziyah

Sebuah pengalaman yang sulit untuk ku lupakan, yaitu bertemu seorang laki-laki yang baik hati dan perhatian tapi sayang hanya sekejab saja dan entah kapan bisa bertemu lagi.

Pada saat itu aku dan keluarga mengantarkan adik ku yang sedang sakit untuk berobat dirumah sakit, ternyata dokter menyarankan opname jadi mau tidak mau adikku harus di rawat inap di rumah sakit itu. Pada hari pertama biasa-biasa saja bahkan aku merasa bosan sekali di rumah sakit. Hari kedua juga sama seperti hari sebelumnya sangat membosankan yang ku lakukan hanya duduk di samping ranjang tempat tidur adikku. Sekitar sore hari mungkin setelah ashar ada beberapa perawat yang datang memeriksa keadaan adikku, tanpa aku sadari ada seorang perawat pria yang memperhatikan aku mungkin aku kegeeran kali ya atau memang diperhatikan entahlah kurang tahu juga????


Cerpen Cinta Love or Love
Tapi tidak lama setelah itu seorang perawat pria yang kumaksud diatas tadi datang lagi membawa sebuaah sprai di tangannya dan minta izin kepadaku untuk mengganti sprai kasur yang di tempati adikku, meskipun terpaksa aku membantunya menggantikan sprai itu karena adikku tidak bisa berdiri dan harus diangkat jadi kami mengangkatnya berdua. Setelah dia keluar dari kamar aku biasa-biasa saja tidak sedikit pun terlintas dalam pikiranku untuk memperhatikan dia.

Besoknya hari terakhir kami dirumah sakit, sebelum cek out dari rumah sakit adikku akan di rongsent, tepat pukul 08.00 WIB adikku dibawa keruang rongsent. Aku dan tanteku ikut menemani karena adikku nangis kalau sendiri dan aku tidak sadar saat menuju ruang rongsent seorang perawat pria yang aku maksud diatas tadi ikut di belakang kami menuju ruang rongsent juga. Tiba giliran adikku yang masuk untuk di rongsent dan aku bersama tanteku di minta ikut menemani didalam ternyata perawat itu ikut masuk juga, ketika akan di rongsent adikku menangis dan tidak mau di rongsent entah kenapa mungkin dia takut sama petugas ruang rongsent yang pakai seragam dan menggunakan masker tutup mulut dikira teroris mungkin makanya takut ha ha ha…. Sedangkan aku bersama tanteku dan juga perawat itu berusaha membujuknya supaya mau tapi tidak berhasil juga, hingga akhirnya adikku tidak jadi di rongsent dan kami membawanya kembali ke kamar saat di jalan menuju kamar tanteku mendorong kursi rodanya adikku dan aku mengiringi disamping ternyata perawat itu mengikuti di belakang kami, kemudian dia meminta agar dia yang mendorong kursi roda adikku.

Sambil mendorong dia bertanya-tanya kepada tante ku yang berjalan di sampingnya sedangkan aku berjalaan di belakang mereka. Dia bertanya tentang adikku dan aku, dia menanyakan kepada tanteku apakah aku kuliah atau masih SMA, dan setelah tanteku bilang kalau aku sudah kuliah dia bertanya lagi semester berapa, jurusan apa, dan kuliah dimana? Aku yang berjalan sendiri di belakang merasa tidak enak karena di omongin.

Kami berunding di dalam kamar dan akhirnya kami memutuskan untuk cek out dari rumah sakit karena tidak ada perkembangan sama sekali, aku langsung menuju ruang petugas untuk meminta cek out, saat meminta cek out dengan menjelaskan beberapa alasan kepada petugas tanpa kusadari ternyata perawat itu ada di belakangku dan bertanya “kenapaa cek out kan belum sembuh?” ucapnya, aku hanya menjawab dengan senyum karena sebenarnya aku kaget dia ada di belakangku, dalam hati aku bergumam “ini orang kayak hantu aja dari tadi muncul di belakang terus” he he he…

Setelah semuanya selesai kami langsung pulang, aku mendorong kursi roda adikku dan ayah,ibu, serta tanteku membawa barang-barang. Lagi-lagi perawat itu mengagetkan aku dia mengikutiku dan meminta dia yang mendorong kursi roda adikku, akhirnya dengan tidak sengaja aku berjalan beriringan dengan perawat itu sampai depan rumah sakit, di sepanjang jalan dia SKSD alias sok kenal sok dekat denganku, aku cuek saja dari omongannya aku hanya menangkap sedikit saja yang aku dengar dia bilang kalau dia sedang praktek di rumah sakit itu dia juga bilang kalau dia semester lima juga dan kuliah di STIKES Muhammadiyah Cuma itu yang aku ingat.

Sampai di depan dia tidak langsung pergi malah menunggu sampai mobil kami datang, karena parkiran penuh jadi mobil lumayan lama baru bisa keluar dan anehnya perawat itu tetap menunggu hingga kami pergi dia baru beranjak dari depan rumah sakit.

Sepanjang perjalanan aku baru terpikir dengan perawat itu, aku baru sadar ternyata dia baik dan perhatian kepada adikku, muncul rasa penasaran di benakku siapa nama perawat itu? Ada sedikit penyesalan juga karena tidak menanyakan namanya.

Berhari-hari setelah dari rumah sakit itu aku selalu memikirkan perawat itu, semakin lama malah semakin sulit melupakannya, aku bingung bagaimana bisa memikirkan orang yang namanya saja tidak tahu tapi itulah kenyataannya. Setiap saat aku bertanya kapan aku bisa bertemu dia lagi????

Sampai sekarang bayangannya sulit sekali untuk di hindari padahaal sudah dua bulan berlalu, aku jadi bingung membedakan perasaanku apakah aku suka tapi rasanya tidak mungkin karena aku belum tahu siapa dia, atau sekedar penasaran ingin tahu namanya dan mengenalnya lebih dalam lagi. Aaaahhhh…… aku bingung.

Sekarang aku masih sangat sulit melupakannya aku hanya bisa berdo’a kepada Allah supaya aku bisa bertemu lagi, aku sekarang tidak mengharapkan apa-apa hanya satu yang aku inginkan bisa bertemu lagi dan pengen tahu namanya itu aza.

Ya Allah pertemukan aku dengannya meski hanya sebentar!!!