“Kenapa harus ada pertemuan kalo akhirnya di pisahin?”
Hanya
satu pertanyaan itu yang terus ada di pikiranku, kenapa harus ada
perpisahan ini? Perpisahan dari pertemuan yang amat indah. Ya Tuhan,
lebih baik tak usah kau pertemukan aku dengannya jikalau hanyalah
perpisahan yang terjadi. Apakah kau mempunyai maksud lain dari semua
kehendakmu? Tuhan, beri aku jawaban atas semua ini..
“Kita putus..”
Satu
pesan dari Rafa malam ini, ya satu . Satu pesan saja di hari ini,
satu-satunya dan gak akan pernah ada lagi pesan darinya. Aku masih
diam, tak bicara. Hatiku kacau, pikiranku tak menentu. Tuhan, inikah
yang kau bilang “Cinta” ? Inikah yang kau bilang “Janji” ? Mengapa
begitu sakit, mengapa begitu menyiksa? Aku masih terpaku, terdiam
menatap pesan dari Rafa.
“Kita putus..” 2 kata itu amat sangat
membuatku di rundung sedih, gundah, kecewa. Apakah semua yang di awali
dengan kebersamaan harus berpisah hanya dengan 2 kata menyakitkan itu?
Aku mengacuhkan pesan dari Rafa, tak lama Rafa mengirim pesan lagi,
“Jangan ganggu gue lagi. Gue mau jauh dari lo..”
Cukup! Cukup kirimi aku pesan jika hanya ingin membuat hatiku semakin hacur. Ya Tuhan...
“Lo putus sama Rafa, Mit?” tanya Hana ketika di sekolah.
“Lo tau dari mana, Na?” jawabku dengan suara kecil.
“Gue
liat status hubungan Rafa di facebook. Statusnya single. Ada masalah
apa Mit? Bukannya selama ini lo baik-baik aja sama dia?” lanjut Hana.
“Gue gak tau Na, udah ya gak usah di bahas. Gue pusing, Na..” jawabku sambil menundukkan kepalaku di meja kelas.
Ternyata
Rafa serius. Dia benar-benar ingin jauh dariku, ada apa? Kenapa harus
secepat ini? Aku saja belum tau kalau dia mengganti status hubungannya
di facebook. Ah pagi yang tak menyenangkan. Menangis lagi...
Sekarang rasanya malas membuka facebook. Entah kenapa..
Aku sekarang sendiri, Rafa pergi dariku..
Segampang
itukah mengucap kata “putus” ? Tak pernahkah ia ingat semua kebahagiaan
yang pernah ada? Semua canda tawa yang pernah terlukis? Semua kenangan
itu. Aku masih mengingatnya, masih merindukannya, bahkan aku masih
menganggapnya pacar..
Maafkan aku yang terlalu sulit membuang
kenangan ini, andai aku mempunyai hati seperti hatimu yang dengan
mudahnya membuang semua kenangan indah itu..
Beri aku jawab atas
semua ini, kenapa? Kenapa hanya aku yang masih berharap diatas semua
kemunafikan ini? Kenapa harus ada sayang berbalas tangis?
Rafa, ini sakit. Terima kasih...
Air mata masih mewarnai mataku. Hana berusaha menenangkanku.
“Jangan nangis lagi Mita. Percaya ya Allah udah mempersiapkan seseorang yang lebih dari Rafa...”
Tapi
percuma saja. Rafa sudah terlalu dalam masuk ke hatiku. Ini salah
siapa? Ini salahku, yang terlalu dalam memendam rasa. Rafa, kenapa kamu
pergi tanpa alasan? Apa ada wanita lain? Kalaupun ia, aku akan merelakan
kamu untuknya jika ia dapat menyayangimu lebih dari aku..
***
Rafa, Rafa dan Rafa...
Dua
hari setelah kejadian itu. Air mata masih setia menemaniku, tertetes.
Rafa, tengok berapa banyak kebahagiaan yang telah kau teteskan dan telah
kau lunaskan dengan air mata ini. Setetes air mataku adalah setitik
kebahagiaan yang telah kau lukai...
Malam itu, aku masih sendiri..
“Hei kamu...”
Terdengar suara seseorang entah siapa, sepertinya ia menyapaku..
Aku menoleh ke kanan, kiri, dan belakang. Tak ada siapa-siapa, “suara siapa itu?”
Mungkin imajinasiku. Suara itu terdengar jelas, memanggilku. Ah apa ini hanya bayang-bayangku saja? Yang masih terpikirkan Rafa?
Kejadian
ini terjadi bukan hanya sekali, setiap malam saat aku sendiri aku masih
mendengar panggilan-panggilan itu. Aku belum terlalu serius memikirkan
panggilan aneh itu, aku masih menganggapnya imajinasiku. Sampai pada
suatu ketika, aku di kagetkan dengan tulisan-tulisan yang tiba-tiba ada
di buku harianku.
“Hah? Tulisan siapa ini?”
Aku membaca semua tulisan-tulisan yang ada di buku harianku.
“
Aku masih memperhatikanmu, bahkan aku tau apa-apa saja yang kamu sukai.
Pada saat ketika aku melihatmu bercermin, aku terkesima sungguh aku
terpesona akan keindahan wanita yang ada di cermin itu, maaf aku
lancang. Satu yang ku tau, aku masih menyukaimu”
“Siapa pun orang yang menulis ini, dia ada di kamarku. Dia memperhatikanku..” gumamku
Hah?
Apa? Di kamar? Siapa dia? Dia tinggal dimana? Di kamarku? Aku masih
terdiam dan memperhatikan tulisan asing ini. Aku kembali menyapu
pandanganku ke sudut-sudut kamarku. Tak ada siapa-siapa di kamar ini
selain aku. Apa ini tulisan kakakku? Dia kan iseng, tapi apa iya dia
se-iseng ini padaku? Ah ya,udah aku gak mau terlalu jauh memikirkan hal
konyol ini..
“Na, masa ada yang iseng nyoret-nyoret buku harianku..” kataku pada Hana yang sedang main ke rumahku.
“Orang iseng? Coret-coret apa Mit?”
Aku
pun menunjukkan semua coretan-coretan konyol itu. Hana
terbengong-bengong, dan bertanya-tanya, siapa ini? Tapi Hana bilang, itu
hanyalah orang-orang iseng.
Aku pun melupakan itu..
Dua kali, tiga kali kejadian ini berkelanjutan. Aku semakin merasa ada yang memperhatikanku tanpa sepengetahuanku.
“Siapa
pun orang iseng itu, ia pasti memperhatikanku. Dia tau apa-apa aja
kesukaanku. Mungkin jika nanti aku tau orang itu, aku akan
memperkenalkannya pada teman-temanku..”
Hal aneh itu terjadi lagi,
satu lagi kertas di buku harianku diwarnai tulisannya. Dan kali ini
benar-benar membuat aku tercengang.
“ Aku tau saat kamu sedih
karena Rafa. Rafa gak benar-benar ninggalin kamu, dia cuma lagi pengen
sendiri, suatu saat nanti dia butuh kamu Mita. Kamu harus percaya itu..”
Siapa ini! Kenapa membuatku benar-benar penasaran.
Satu
pesan masuk di handphoneku, “Tania” . Adiknya Rafa. Ada apa dia
mengirimiku pesan? Dengan penuh rasa ingin tahu, aku pun membuka pesan
dari Tania yang isinya,
“kak, kakak dimana? Kak Rafa koma kak.
Dia masih belum siuman sampe sekarang, kakak aku tungguin disini, tapi
kakak gak dateng2. Kakak kesini dong kak L aku mohon. Aku dirumah sakit Harapan, ke sini ya kak please.”
“Hah? Rafa koma? Sakit apa?” tanyaku dalam hati
Tanpa
membalas pesan Tania, aku langsung pergi ke rumah sakit Harapan. Ya
Tuhan, apa yang terjadi sama Rafa. Tolong jaga nafasnya ya Tuhan..
Saat di taksi, Tania meneleponku.
“Halo kak, dimana? Cepet kesini..”
“Iya sayang, aku otw ke sana. Kamu tunggu di depan ya..”
“Iya kak, cepet ya..”
Klik.
“Nih
pak, kembaliannya ambil aja. Makasih ya..” kataku pada supir taksi yang
memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit harapan
“Makasih mbak..”
Aku langsung berlari dan ku lihat Tania sudah berdiri di depan ruang UGD. Aku segera menghampirinya.
“Kak,ayo cepet lihat keadaannya Kak Rafa..” katanya sambil menarik tanganku
Aku menurut.
Di dalam ruang UGD.
“Astagfirullah.. Rafa kenapa? Ya Tuhan..” kataku sambil mendekat ke arah Rafa
Rafa tertidur.
“Rafa kenapa Tania?” tanyaku pada Tania
“Kak Rafa kecelakaan kak, kepalanya bocor. Dia terkena gegar otak kak, dari tiga hari yang lalu dia belum sadar..”
Aku menangis.
Ku lihat di meja kecil yang ada di situ terdapat sebuah buku.
“Itu bukunya Kak Rafa yang aku temui di kamarnya kak..”
Aku
membacanya. Dan apa yang aku lihat, cara menulis di buku itu sama
persis seperti apa yang ada di buku harianku. Ya tulisan aneh itu. Ya
Tuhan, ada apa ini? Apa rencanamu kali ini?
Dibuku itu tertulis..
Mita,
putri kecilku.Maafkan aku, aku terpaksa menyuruhmu pergi dari hidupku.
Aku tau kamu sayang aku, dan aku pun lebih menyayangimu. Aku merasa,
sayangmu terlalu berarti. Aku takut akan melukai hatimu, dan bila saat
itu terjadi, kamu pasti akan menangis. Aku gak siap kalau harus melihat
kristal-kristal-kristal itu tertetes, itu terlalu berarti jikalau kamu
teteskan untukku, Mita.. Aku harap, setelah kamu membaca ini, aku sudah
kembali ke pangkuan-Nya. Aku gak akan buka mata lagi, karena aku gak mau
lihat air matamu yang mulia itu. Mita, sekali lagi maafkan aku. Jangan
takut, aku akan tetap ada, aku ada di sudut kamarmu, dekat boneka teddy
dariku. Aku ada disitu saat kamu sedang memikirkanku. Maaf juga aku
sudah membuatmu penasaran akan tulisan-tulisan aneh itu. Aku hanya ingin
kamu tau, aku masih memperhatikanmu walaupun aku sudah berusaha keras
untuk melupakanmu. Aku tau dan aku yakin itu mustahil. Sekali lagi aku
mohon, jangan kamu teteskan air mata itu ya? Aku sedih kalo lihat kamu
sedih. Love u Mita J
Aku langsung menoleh ke arah Rafa. Dan ternyata Rafa sudah tak bernyawa. Aku menangis, Tania menenangkanku.
“Rafa bangun..” bisikku di telinga Rafa
“Kak, ternyata Kak Rafa nungguin Kak Mita kesini buat baca apa yang ada di buku itu..”
Ku
kecup keningnya. Tunggu aku disana ya. Aku akan nyusul kamu secepatnya
agar tak ada air mata lagi tertetes dari mataku. Itu kan yang kamu mau?
Tuhan,
rencanamu kali ini benar-benar membuat aku terkagum-kagum. Kau membawa
Rafa kembali padamu. Aku tau sayangku tak berarti apa-apa jika dibanding
sayangmu pada Rafa..
Siang itu Rafa di makamkan. Berat
rasanya, sangat berat untuk merelakannya. Matanya tertutup, senyumnya
tetap mewarnai jasadnya. Selamat jalan, Rafa. Aku selalu
menyayangimu...
Malam ini, aku terdiam. Sambil terus memandangi
boneka teddy. Berharap Rafa ada di balik situ, memperhatikanku yang
sedang memperhatikannya...