Selasa, 03 April 2012

ADELE - Someone Like You :"


ADELE - Someone Like You :"

oleh Qiqi Kusuma Wardhanie pada 17 Desember 2011 pukul 15:35 ·
I heard, that your settled down.
That you, found a girl and your married now.
I heard that your dreams came true.
Guess she gave you things, I didn't give to you.

Old friend, why are you so shy?
It ain't like you to hold back or hide from the lie.

I hate to turn up out of the blue uninvited.
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I'd hoped you'd see my face & that you'd be reminded,
That for me, it isn't over.

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best, for you too.
Don't forget me, I beg, I remember you said:-
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah.

You'd know, how the time flies.
Only yesterday, was the time of our lives.
We were born and raised in a summery haze.
Bound by the surprise of our glory days.

I hate to turn up out of the blue uninvited,
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I'd hoped you'd see my face & that you'd be reminded,
That for me, it isn't over yet.

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best for you too.
Don't forget me, I beg, I remember you said:-
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead", yay.

Nothing compares, no worries or cares.
Regret's and mistakes they're memories made.
Who would have known how bittersweet this would taste?

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best for you too.
Don't forget me, I beg, I remembered you said:-
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"

Nevermind, I'll find someone like you.
I wish nothing but the best for you too.
Don't forget me, I beg, I remembered you said:-
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yay yeh yeah

SURAT DARI ANAK HASIL ABORSI

SURAT DARI ANAK HASIL ABORSI - 

( VERSI @QIQIQOOOY ) B)

 oleh Qiqi Kusuma Wardhanie pada 3 Januari 2012 pukul 12:56 ·

ini bukan karya gue! gue sempet lihat sebentar ini di facebook . tapi gue coba buat ceritain lagi soalnya ini bener-bener nguras air mata gue , bener-bener nyentuh banget . ! tapi ini gue pake kata-kata gue sendiri ! gue cuma ngambil ide ceritanya ajaa yaa

- SURAT DARI ANAK HASIL ABORSI -

assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

teruntuk bundaku tercinta ,

Bunda ku sayang,
apa kabarmu? aku sangat merindukanmu Bunda . aku ingin merasakan di gendongmu , dipelukmu , diciummu . tapi ternyata kau lebih memilih untuk menghabiskan nyawaku , kau lebih memilih hidup tanpa aku ! janin yang telah kau buahi . yang telah kau buat atas perbuatanmu sendiri Bunda .
tapi aku berterima kasih sekali padamu Bunda , karena Bunda telah mengizinkan aku untuk tinggal dirahim Bunda , walau hanya sementara . aku berterima kasih sekali karena engkau telah menempatkan aku di dalam rahimmu yang kata Allah itu tempat paling mulia . aku senang bergulat dengan darah-darahmu disana , di dalam aku merasakan ingin rasanya aku keluar dr sini , melihat indahnya dunia ini . tapi engkau tidak sejalan denganku . kau menghilangkan nyawaku Bunda ! tengok betapa jahatnya dirimu .

Bunda , dapat salam dari Allah katanya Bunda itu orangnya cantik ya? aku yakin Ayahku juga pasti tampan kan Bunda? aku ingin sekali merasakan ada di tengah-tengah Ayah dan Bunda . ingin dikecup kalian :( karena kalian lah aku dapat terlahir bahkan dengan cara seperti ini .


Bunda , aku disini berada ditempat yang sangat indah . sangat damai disini . aku merasakan hidup disini ! tapi aku tau, semuanya tidak akan seindah ini kalau aku hidup di anatara Ayah dan Bunda .

Bunda, aku melihat ada suatu tempat tapi ini sangat jauh dari keindahan . didalamnya terdapat banyak api , bara panas . aku bertanya kepada Allah kenapa banyak orang berteriak-teriak di dalam sana? mereka semua menangis , memohon ampun . Allah menjawab : mereka itu orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat yang telah ku berikan , mereka hanya memntingan kebutuhan duniawi saja ! tidak mementingkan kebutuhan akhirat , kamu tau? Bundamu dan Ayahmu akan aku tempatkan di antara orang-orang itu ! bermandikan bara api panas . aku menjawab : kasihan mereka ya Allah , aku disini merasakan kebahagiaan kenapa kedua orang yang telah membuat aku ada di dunia ini malah merasakan kekejaman yang sangat-sanagt membuat miris hati ini , aku ingin mereka bersamaku disini ! agar mereka tau aku telah terlahir dan sangat mengharapkan kehadirannya disini :( . Allah menjawab : kamu sungguh mulia Putraku , kau bahkan tidak rela kalau orang yang telah menghilangkan nyawamu harus hidup berdampingan dengan orang-orang musyrik disana . aku menjawab : ya Allah , berkat mereka aku tercipta walau mungkin aku tau , aku hanya akan merepotkan hidupnya kalau nanti aku dibiarkan hidup bersamanya .


Bunda , apakah jika aku hidup bersamamu aku akan menjadi anak yang nakal? aku akan membuatmu menangis? aku akan ngompol di kasurmu? aku akan membuat rumah berantakan? itu alasan kenapa kamu tidak menginginkan hadirnya aku? iya Bunda? jawab yah pertanyaan ku yang ini Bunda . aku sedih kalau Bunda nyuekin pertanyaan aku ini .


Bunda , aku janji aku gak akan biarin Bunda nanti hidup bersama orang-orang yang bermandikan bara panas itu , aku janji akan membimbingmu menapaki jembatan tipis itu . pegang janjiku Bunda ! aku takkan pernah sedikitpun membencimu dan Ayahku aku mohon jaga Bunda .
Bunda, kalau nanti di rahimmu ada setitik nyawa , tolong ! jangan bunuh dia seperti apa yang kau lakukan terhadapku Bunda, biarlah dia merasakan betapa bahagianya dia dipelukmu , diciummu , digendongmu . mungkin itu hanya mimpi bagiku Bunda .



Cukup sekian surat dariku Bunda semoga Bunda mengetahui bahwa aku amat sanagt menyayangi Bunda :*
salam

- nyawa tak berdosa ( anakmu )-

Kekasih Untuk Kakakku

Kekasih Untuk Kakakku

oleh Qiqi Kusuma Wardhanie pada 22 Maret 2012 pukul 14:59 ·
Kekasih Untuk Kakakku

“Bukankah kamu dulu pernah berjanji, akan selalu menemani setiap derai air mata bahagiaku?”
Semua janji itu terasa tinggal angan yang tak akan mungkin sanggup untuk ku gapai. Kamu tau aku mengharapkanmu? Kamu tau aku menyayangimu? Kamu pun tau bahwa aku tak ingin yang lain! Hanya kamu, tapi kenapa kini kau buang semua. Kau hempas semua janji-janjimu. Aku masih ingat saat pertama kamu menanyakan jawaban hatiku atas pertanyaan hatimu. Aku masih ingat saat pertama kali kamu eratkan jemari-jemarimu di sela jemariku, kamu tau? Aku tak mudah membuang semua itu. Meskipun aku tau, kamu tak akan ingat atas semuanya. Aku pun masih mengingat saat perkenalan kita, ya cuma itu satu-satunya cara untuk mengobati rasa rindu yang tak kunjung berbalas ini. Entah bodoh ataupun tolol, aku masih merindukanmu. Akankah kamu kesini, kembali padaku dan bawa balasan rindu untukku? Aku menunggumu, masih menunggu. Walaupun aku merasa tak pernah ditunggu. Tapi tak apa, bukankah semua ketulusan tak melulu berbalas ketulusan pula?

Aku ingat saat kemunafikanmu terungkap. Malam itu, ada satu pesan singkat di handphoneku. Dari Aldy, kekasihku.
“Sayang kamu dimana? Bisa ketemu malam ini?”
Dengan senyum merekah, aku membalas pesannya.
“Bisa, kamu jemput ke rumah ya?”
5 menit kemudian balasan datang.
“Aduh maaf, kita ketemu di Restaurant kita yang biasa makan aja ya? Jam 8“
Dengan menghela nafas kecewa aku membalas pesannya.
“Yaudah, see you :*
“See you too”

Aku segera membuka lemari, melihat koleksi dress malamku. Kira-kira malam ini Aldy memakai baju apa ya? Aku segera mengira-ngira. Ya! Aku langsung mengalihkan pandanganku ke dress warna putih berpayet pink itu. Aku segera mengeluarkannya dari lemariku dan menaruhnya di kasur. Ah malam ini aku harus tampil spesial, karena jarang-jarang Aldy mengajak pergi mendadak seperti ini. Pasti dia ingin memberikanku hadiah. Ya! Aku yakin itu. Dengan senyum sumringah aku keluar kamar dengan bersenandung kecil.
Mama tengah asyik menonton tayangan gosip di televisi.
“Mah, Kak Riska sampe Jakarta jam berapa?” tanyaku kemudian duduk disamping Mama.
“Katanya sih nanti malem jam 8-an. Tapi katanya dia nanti mau ketemu sama calon tunangannya dulu, jadi gak langsung ke rumah..” jawab Mama.
“Haa? Tunangan? Sama Rudi itu mah?” aku kaget
Mama menggeleng.
“Oh iya mah, nanti malem aku mau pergi Aldy..”
“Mau makan? Dimana?”
“Di tempat biasa mah, boleh ya?”
“Iya, sayang. Asal jangan kemaleman aja ya..” jawab Mama.

Aku segera berlalu dari Mama, dan kembali lagi ke kamarku. Aku duduk dan mengambil handphoneku. Niatnya mau telepon Aldy, tapi aku mengurungkan niatku. Ya aku pendam sejenak rindu ini, rindu akan suaranya. Karena nanti malam semua rindu ini akan terbayar lunas. Aku berkali-kali menengok ke arah jam, ingin rasanya aku percepat waktu ini. Beberapa lama aku menunggu, akhirnya adzan magrib pun terdengar. Aku segera mandi dan bergegas mengambil air wudhu, seusai sholat, aku berdoa untuk kelanggengan hubunganku dengan Aldy. Tuhan, aku benar-benar menyayanginya, jadikan dia yang terakhir dalam hidupku. Amin.
Aku segera bersiap mengenakan dress putihku, dress putih selutut ini amat anggun. Semoga Aldy suka penampilanku malam ini, ku ambil wedgesku, warna merah muda. Ku pandangi sekali lagi wajahku di cermin, takut ada yang terlupa. Ku poles lagi sedikit blash on di pipiku.
“Cantik..” gumamku di depan kaca. Ku lemparkan senyuman terakhirku di kaca, kemudian segera keluar kamar.

“Maa, aku berangkat ya..” kataku pada Mama yang sedang duduk di ruang tamu.
“Di jemput Aldy?” tanya Mama.
“Enggak mah, langsung ketemu disana. Aku naik taksi aja, aku berangkat ya..” kataku sambil mencium tangan Mama dan kemudian segera keluar, karena taksi yang sudah ku telepon sebelumnya sudah menunggu.

“Pak, Resto Mawar ya..” kataku pada Pak supir.
Pak supir pun langsung menginjak gas dan langsung mengendarai taksi.
Aku mengirimi pesan untuk Aldy.
“Aku otw ya, di meja nomer berapa?”
Aldy membalas.
“18”

Singkat, padat tapi lumayan jelas. 15 menit kemudian taksi berhenti di depan Resto Mawar, aku segera membayar tarif taksi dan langsung menuju ke dalam Resto. Aku menuju meja nomor 18, ada Aldy di situ dan dia bersampingan dengan wanita. Siapa? Wanita itu duduk di depan Aldy, aku melihat punggungnya, rambutnya sebahu, lurus, sepertinya aku kenal siapa wanita itu. Aku segera menghampiri Aldy. Aldy langsung berdiri dan menyambutku, aku menoleh ke arah wanita di depan Aldy.

“Kak Riska?! Ngapain disini sama Aldy?” tanyaku dengan muka setengah kaget.
“Kamu ngapain disini?” Kak Riska balik bertanya.

Aku duduk, diam, kemudian ingat kata Mama selagi tadi sore kalau Kak Riska akan bertemu calon tunangannya malam ini pukul 8, dan sekarang dia bersama Aldy, kekasihku. Apa mungkin Aldy adalah calon tunangan Kak Riska? Aku menahan air mataku.
“Ini ada apa, Dy?” tanyaku pada Aldy.
Aldy memegang tanganku.
“Maafkan aku Risna, aku gak bermaksud untuk nyakitin kamu. Harusnya aku jujur dari awal, kalau aku sudah memiliki kekasih, Riska..”
Aku kaget,
“Ini kakakku, Dy! Dia kakak kandungku!”
Kak Riska menggenggam tangan kiriku,
“Kakak sama sekali gak tau, kalau Aldy ini pacar kamu, dek..”
Ku hempaskan tanganku dari genggaman Kak Riska, ku tarik nafas perlahan. Ku coba tahan air mataku yang mulai menetes.

“Gak lama lagi, aku akan ngadain acara pertunangan sama Riska. Dan aku nyuruh kamu ke sini, ingin menyelesaikan hubungan kita, Risna. Maafin aku..” kata Aldy berlutut.

Tanpa menunggu waktu, aku langsung berdiri dan meninggalkan Kak Riska dan Aldy. Aldy, sungguh amat menyakitkan saat aku tau bahwa kamu telah lebih dulu menjalani hubungan dengannya, kakak kandungku. Tapi aku tak boleh egois, kalau memang Kak Riska berhak mendapat kebahagiaan dari Aldy, aku akan merelakannya. Walaupun berat , aku harus menerima.
Malam ini, acara pertunangan itu di langsungkan. Aku enggan hadir, aku memilih untuk berdiam diri, disini, di kamarku. Ku tuliskan semua sakit yang dulu ku rasakan, walaupun aku tau semua itu percuma.
Sekarang Aldy dan Kak Riska sudah bahagia. Kak Riska meminta maaf, aku memaafkannya. Meskipun sebenarnya hati kecilku belum memaafkan. Maafkan aku kak, ini teramat sakit. Butuh waktu lama untuk menyembuhkannya, bukan berlebihan aku berbicara sesuai kenyataan.
Aldy pun meminta maaf padaku, sama seperti Kak Riska. Aku memaafkannya, masih ada sedikit kesal tapi bukan karena ia telah bertunangan dengan kakakku. Melainkan karena kepandaiannya menyimpan kemunafikan.

Ada Kamu dibalik Teddy Bear

Ada Kamu dibalik Teddy Bear

oleh Qiqi Kusuma Wardhanie pada 22 Maret 2012 pukul 16:07 ·

“Kenapa harus ada pertemuan kalo akhirnya di pisahin?”
Hanya satu pertanyaan itu yang terus ada di pikiranku, kenapa harus ada perpisahan ini? Perpisahan dari pertemuan yang amat indah. Ya Tuhan, lebih baik tak usah kau pertemukan aku dengannya jikalau hanyalah perpisahan yang terjadi. Apakah kau mempunyai maksud lain dari semua kehendakmu? Tuhan, beri aku jawaban atas semua ini..

“Kita putus..”
Satu pesan dari Rafa malam ini, ya satu . Satu pesan saja di hari ini, satu-satunya dan gak akan pernah ada  lagi pesan darinya. Aku masih diam, tak bicara. Hatiku kacau, pikiranku tak menentu. Tuhan, inikah yang kau bilang “Cinta” ? Inikah yang kau bilang “Janji” ? Mengapa begitu sakit, mengapa begitu menyiksa?  Aku masih terpaku, terdiam menatap pesan dari Rafa.
“Kita putus..” 2 kata itu amat sangat membuatku di rundung sedih, gundah, kecewa. Apakah semua yang di awali dengan kebersamaan harus berpisah hanya dengan 2 kata menyakitkan itu? Aku mengacuhkan pesan dari Rafa, tak lama Rafa mengirim pesan lagi,
“Jangan ganggu gue lagi. Gue mau jauh dari lo..”
Cukup! Cukup kirimi aku pesan jika hanya ingin membuat hatiku semakin hacur. Ya Tuhan...

“Lo putus sama Rafa, Mit?” tanya Hana ketika di sekolah.
“Lo tau dari mana, Na?” jawabku dengan suara kecil.
“Gue liat status hubungan Rafa di facebook. Statusnya single. Ada masalah apa Mit? Bukannya selama ini lo baik-baik aja sama dia?” lanjut Hana.
“Gue gak tau Na, udah ya gak usah di bahas. Gue pusing, Na..” jawabku sambil menundukkan kepalaku di meja kelas.

Ternyata Rafa serius. Dia benar-benar ingin jauh dariku, ada apa? Kenapa harus secepat ini? Aku saja belum tau kalau dia mengganti status hubungannya di facebook. Ah pagi yang tak menyenangkan. Menangis lagi...
Sekarang rasanya malas membuka facebook. Entah kenapa..
Aku sekarang sendiri, Rafa pergi dariku..

Segampang itukah mengucap kata “putus” ? Tak pernahkah ia ingat semua kebahagiaan yang pernah ada? Semua canda tawa yang pernah terlukis? Semua kenangan itu. Aku masih mengingatnya, masih merindukannya, bahkan aku masih menganggapnya pacar..
Maafkan aku yang terlalu sulit membuang kenangan ini, andai aku mempunyai hati seperti hatimu yang dengan mudahnya membuang semua kenangan indah itu..
Beri aku jawab atas semua ini, kenapa? Kenapa hanya aku yang masih berharap diatas semua kemunafikan ini? Kenapa harus ada sayang berbalas tangis?
Rafa, ini sakit. Terima kasih...

Air mata masih mewarnai mataku. Hana berusaha menenangkanku.
“Jangan nangis lagi Mita. Percaya ya Allah udah mempersiapkan seseorang yang lebih dari Rafa...”
Tapi percuma saja. Rafa sudah terlalu dalam masuk ke hatiku. Ini salah siapa? Ini salahku, yang terlalu dalam memendam rasa. Rafa, kenapa kamu pergi tanpa alasan? Apa ada wanita lain? Kalaupun ia, aku akan merelakan kamu untuknya jika ia dapat menyayangimu lebih dari aku..

***
Rafa, Rafa dan Rafa...
Dua hari setelah kejadian itu. Air mata masih setia menemaniku, tertetes. Rafa, tengok berapa banyak kebahagiaan yang telah kau teteskan dan telah kau lunaskan dengan air mata ini. Setetes air mataku adalah setitik kebahagiaan yang telah kau lukai...
Malam itu, aku masih sendiri..
“Hei kamu...”
Terdengar suara seseorang entah siapa, sepertinya ia menyapaku..
Aku menoleh ke kanan, kiri, dan belakang. Tak ada siapa-siapa, “suara siapa itu?”

Mungkin imajinasiku. Suara itu terdengar jelas, memanggilku. Ah apa ini hanya bayang-bayangku saja? Yang masih terpikirkan Rafa?
Kejadian ini terjadi bukan hanya sekali, setiap malam saat aku sendiri aku masih mendengar panggilan-panggilan itu.  Aku belum terlalu serius memikirkan panggilan aneh itu, aku masih menganggapnya imajinasiku. Sampai pada suatu ketika, aku di kagetkan dengan tulisan-tulisan yang tiba-tiba ada di buku harianku.
“Hah? Tulisan siapa ini?”
Aku membaca semua tulisan-tulisan yang ada di buku harianku.

“ Aku masih memperhatikanmu, bahkan aku tau apa-apa saja yang kamu sukai. Pada saat ketika aku melihatmu bercermin, aku terkesima sungguh aku terpesona akan keindahan wanita yang ada di cermin itu, maaf aku lancang. Satu yang ku tau, aku masih menyukaimu”

“Siapa pun orang yang menulis ini, dia ada di kamarku. Dia memperhatikanku..” gumamku
Hah? Apa? Di kamar? Siapa dia? Dia tinggal dimana? Di kamarku? Aku masih terdiam dan memperhatikan tulisan asing ini. Aku kembali menyapu pandanganku ke sudut-sudut kamarku. Tak ada siapa-siapa di kamar ini selain aku. Apa ini tulisan kakakku? Dia kan iseng, tapi apa iya dia se-iseng ini padaku? Ah ya,udah aku gak mau terlalu jauh memikirkan hal konyol ini..

“Na, masa ada yang iseng nyoret-nyoret buku harianku..”  kataku pada Hana yang sedang main ke rumahku.
“Orang iseng? Coret-coret apa Mit?”
Aku pun menunjukkan semua coretan-coretan konyol itu. Hana terbengong-bengong, dan bertanya-tanya, siapa ini? Tapi Hana bilang, itu hanyalah orang-orang iseng.
Aku pun melupakan itu..
Dua kali, tiga kali kejadian ini berkelanjutan. Aku semakin merasa ada yang memperhatikanku tanpa sepengetahuanku.
“Siapa pun orang iseng itu, ia pasti memperhatikanku. Dia tau apa-apa aja kesukaanku. Mungkin jika nanti aku tau orang itu, aku akan memperkenalkannya pada teman-temanku..”
Hal aneh itu terjadi lagi, satu lagi kertas di buku harianku diwarnai tulisannya. Dan kali ini benar-benar membuat aku tercengang.
“ Aku tau saat kamu sedih karena Rafa. Rafa gak benar-benar ninggalin kamu, dia cuma lagi pengen sendiri, suatu saat nanti dia butuh kamu Mita. Kamu harus percaya itu..”
Siapa ini! Kenapa membuatku benar-benar penasaran.
Satu pesan masuk di handphoneku, “Tania” . Adiknya Rafa.  Ada apa dia mengirimiku pesan?  Dengan penuh rasa ingin tahu, aku pun membuka pesan dari Tania yang isinya,
“kak, kakak dimana? Kak Rafa koma kak. Dia masih belum siuman sampe sekarang, kakak aku tungguin disini, tapi kakak gak dateng2. Kakak kesini dong kak L aku mohon. Aku dirumah sakit Harapan, ke sini ya kak please.”
“Hah? Rafa koma? Sakit apa?” tanyaku dalam hati
Tanpa membalas pesan Tania, aku langsung pergi ke rumah sakit Harapan. Ya Tuhan, apa yang terjadi sama Rafa. Tolong jaga nafasnya ya Tuhan..
Saat di taksi, Tania meneleponku.
“Halo kak, dimana? Cepet kesini..”
“Iya sayang, aku otw ke sana. Kamu tunggu di depan ya..”
“Iya kak, cepet ya..”
Klik.
“Nih pak, kembaliannya ambil aja. Makasih ya..” kataku pada supir taksi yang memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit harapan
“Makasih mbak..”
Aku langsung berlari dan ku lihat Tania sudah berdiri di depan ruang UGD. Aku segera menghampirinya.
“Kak,ayo cepet lihat keadaannya Kak Rafa..” katanya sambil menarik tanganku
Aku menurut.
Di dalam ruang UGD.
“Astagfirullah.. Rafa kenapa? Ya Tuhan..” kataku sambil mendekat ke arah Rafa
Rafa tertidur.
“Rafa kenapa Tania?” tanyaku pada Tania
“Kak Rafa kecelakaan kak, kepalanya bocor. Dia terkena gegar otak kak, dari tiga hari yang lalu dia belum sadar..”
Aku menangis.
Ku lihat di meja kecil yang ada di situ terdapat sebuah buku.
“Itu bukunya Kak Rafa yang aku temui di kamarnya kak..”
Aku membacanya. Dan apa yang aku lihat, cara menulis  di buku itu sama persis seperti apa yang ada di buku harianku. Ya tulisan aneh itu. Ya Tuhan, ada apa ini? Apa rencanamu kali ini?
Dibuku itu tertulis..

Mita, putri kecilku.Maafkan aku, aku terpaksa menyuruhmu pergi dari hidupku. Aku tau kamu sayang aku, dan aku pun lebih menyayangimu. Aku merasa, sayangmu terlalu berarti. Aku takut akan melukai hatimu, dan bila saat itu terjadi, kamu pasti akan menangis. Aku gak siap kalau harus melihat kristal-kristal-kristal itu tertetes, itu terlalu berarti jikalau kamu teteskan untukku, Mita.. Aku harap, setelah kamu membaca ini, aku sudah kembali ke pangkuan-Nya. Aku gak akan buka mata lagi, karena aku gak mau lihat air matamu yang mulia itu. Mita, sekali lagi maafkan aku. Jangan takut, aku akan tetap ada, aku ada di sudut kamarmu, dekat boneka teddy dariku. Aku ada disitu saat kamu sedang memikirkanku. Maaf juga aku sudah membuatmu penasaran akan tulisan-tulisan aneh itu. Aku hanya ingin kamu tau, aku masih memperhatikanmu walaupun aku sudah berusaha keras untuk melupakanmu. Aku tau dan aku yakin itu mustahil. Sekali lagi aku mohon, jangan kamu teteskan air mata itu ya? Aku sedih kalo lihat kamu sedih. Love u Mita J 

Aku langsung menoleh ke arah Rafa. Dan ternyata Rafa sudah tak bernyawa. Aku menangis, Tania menenangkanku.
“Rafa bangun..” bisikku di telinga Rafa
“Kak, ternyata Kak Rafa nungguin Kak Mita kesini buat baca apa yang ada di buku itu..”

Ku kecup keningnya. Tunggu aku disana ya. Aku akan nyusul kamu secepatnya agar tak ada air mata lagi tertetes dari mataku. Itu kan yang kamu mau?
Tuhan, rencanamu kali ini benar-benar membuat aku terkagum-kagum. Kau membawa Rafa kembali padamu. Aku tau sayangku tak berarti apa-apa jika dibanding sayangmu pada Rafa..

Siang itu Rafa di makamkan. Berat rasanya, sangat berat untuk merelakannya. Matanya tertutup, senyumnya tetap mewarnai jasadnya.  Selamat jalan, Rafa. Aku selalu menyayangimu...
Malam ini, aku terdiam. Sambil terus memandangi boneka teddy. Berharap Rafa ada di balik situ, memperhatikanku yang sedang memperhatikannya...

Jumat, 16 Maret 2012

Rembulan Yang Tinggal Separuh

Rembulan Yang Tinggal Separuh

oleh Adrian Abies pada 27 Februari 2012 pukul 19:42 ·
semilir angin kian lembab
Lahirkan titik titik embun diujung dedaunan
Jangkrik bersiul merdu
Sayup suara Ku si burung hantu
Suasana malam yang kian pekat nan senyap
Temaniku dalam pilu
Aku tergugu, Gejolak rindu seolah membeku
Rembulan yang tinggal separuh Mengintip dari celah jendela kamarku
Dia pun terlihat agak sendu Meski tetap tersenyum merayu
Seolah dia tahu gundahku...

Oh rembulan tahukah engkau...
Diujung langit mana dia terbang?
Tak satupun nampak jejak juga bayang
Masihkah rindu ini harus ku genggamHingga sampai saat itu menjelang
Aku mencintainya sepenuh hati
Amat merinduinya meski telah pergi
Ku hanya ingin bertatap Walau hanya sekejap
Namun itu takkan mungkin terjadi
Tidakkah seharusnya rasa ini telah mati
Dan sirna dari hati ini...
Namun dia tetap bertahta di palung sanubari...


Love Never Die :)
oleh Adrian Abies pada 27 Februari 2012 pukul 19:42 ·

semilir angin kian lembab
Lahirkan titik titik embun diujung dedaunan
Jangkrik bersiul merdu
Sayup suara Ku si burung hantu
Suasana malam yang kian pekat nan senyap
Temaniku dalam pilu
Aku tergugu, Gejolak rindu seolah membeku
Rembulan yang tinggal separuh Mengintip dari celah jendela kamarku
Dia pun terlihat agak sendu Meski tetap tersenyum merayu
Seolah dia tahu gundahku...

Oh rembulan tahukah engkau...
Diujung langit mana dia terbang?
Tak satupun nampak jejak juga bayang
Masihkah rindu ini harus ku genggamHingga sampai saat itu menjelang
Aku mencintainya sepenuh hati
Amat merinduinya meski telah pergi
Ku hanya ingin bertatap Walau hanya sekejap
Namun itu takkan mungkin terjadi
Tidakkah seharusnya rasa ini telah mati
Dan sirna dari hati ini...
Namun dia tetap bertahta di palung sanubari...


Love Never Die :)

Dimanakah Perasaanmu

Dimanakah Perasaanmu

oleh Adrian Abies pada 27 Februari 2012 pukul 19:48 ·

Seakan duri merobek hatiku Hancurkan jiwaku
Musnahkan semua tawa dihatiku
Mengapa kau lakukan ini padaku
Mengapa kau tinggalkanku saat aku membutuhkan kamu
Andai engkau tau Sakit hati ini
saat kau tinggalkan cintaku yang tulus ini
Hanya untuk seorang yang tak pernah mencintaimu
Dimanakah perasaanmu???
Saat kau ucap kata lupakan aku
Sungguh kau bukan manusia bagiku
Kau Ucap Kata Yang Sama...

Hatiku tak seperti baja Yang takkan hancur meski dihantam oleh ribuan batu
Aku bukanlah boneka Yang bisa kau permainkan sesuka hatimu
Aku bukan Tuhan Yang bisa memberikan semua apa yang kau minta
Kau pergi Dan kau kembali lagi Kau ucap kata sama
Kau minta untuk bersamamu lagi Kau ucap janji sama
Kau takkan tinggalkan aku Kau ucap 1000 kata maaf padaku
Itu..yang akan semakin membuatku terluka
Bukan ku membencimu Tapi sungguh Kata maaf itu terlalu indah dibibir manismu
Dan sungguh Sulit untuk ku bisa memaafkanmu..


Love Never Die :)

Kan Ku Ingat Masa Itu

Kan Ku Ingat Masa Itu

oleh Adrian Abies pada 27 Februari 2012 pukul 19:52 ·

Indahmu menularkan semangat dalam jiwaku
Katamu meramaikan setiap kesunyian yg melanda sudut hatiku
Tatapanmu bagaikan nur yg menerangi seluruh otakku
Inikah dirimu, yang maha memiliki hati hampaku
Hitam bukanlah aku...
Putih, kelewat indah untuk jiwaku...
Merah jelas aku tak mau...
Inikah engkau yang memberiku Warna...
Menjadikan warna-warnamu sebuah pilihan yang sulit untuk kutau
Kehilangan ini membuatku canggung
Kehilangan ini membuatku menjadi seorang tuna
Dan kehilangan ini pula yang membuatku bertindak bodoh
Menuruti semua Ego terkutukku...
Menjadikanku semakin dan semakin terperosok dalam lembah kelam
Dan dalam kesendirian ini Aku tengah menyesali segala kelakuanku
Kelakuan yang membuat aku
kehilangan dirimu Selamanya...

Oh Tuhan...
Andai saja Waktu dapat aku putar mundur
Aku hanya akan meng-Cut saat itu
Saat aku akan kehilangannya
Kan aku rubah Skenario hidupku
Tapi waktu adalah waktu
Tak mau tau akan Deritaku
Derita yang ku buat sendiri Diatas semua Egoku
Sekarang...
Masa ini...
Aku akan Hidup...
Tak akan kuulang lagi kesalahan itu
Kan kuingat masa itu sebagai jalanku
Jalan menuju sebuah cinta tanpa keEgoisan...


Love Never Die :)

Kesunyian Hati

Kesunyian Hati

oleh Adrian Abies pada 28 Februari 2012 pukul 15:22 ·

terdiam aku dalam kesendirian malam
sendiri dan hanya terdiam membisu tanpa kata
merenug di kesendirian hatiku

kesunyian membawaku di ujung pekat malam
merengkuh dalam kesepian

semakin aku rasa aku hanyut dalam
ketidakpastian jalan hidupku
kenapa semua ini harus terjadi

telah banyak kita mengarungi mimpi”
yang dulu ingin kita gapai
apa itu akan kau sia-siakan

lelah sejujur hati ini
namun aku hanya memikirkanmu
aku merasa kehilanganmu
kehilanganmu tlah membuatku terpaku membisu

aku hanya butuh dirimu di sampingku
bukan sosok wajah yang baru

aku hanya inginkan kamu
yang dulu pernah singggah di ruang kecil
yang kini telah menjadi sepi

kini aku mengerti
ketidak hadiran dirimu untuk ku

aku bukan milikmu lagi di hatimu
kau tlah membuang jejak-jejak manis
kenangan kita yang lalu

sebelum aku jauh melangkah ke depan
kasih semoga kau bahagia dengan jalan
yang kau tempuh
maafkan aku jika aku tak pernah sempura
tuk memberimu kebahagiaan

Tenggelam Aku Dalam Sepi

Tenggelam Aku Dalam Sepi

oleh Adrian Abies pada 28 Februari 2012 pukul 15:23 ·

tenggelam aku dalam kesunyian
terpaku aku dalam kerinduan
kerinduan akan seseorang yg ku sayang

akankah dia akan datang
mengobati hatiku yg sedang bimbang
ku tak mau hatiku hilang
ditiup angin dan diambil orang

kuingin kau yg mimilikinya
karena kau orang yg ku sayang
ku tak mau kau menghilang

cinta ,,,
kasih dan sayang
hanya untukmu seorang ..
jangan biarkan perasaan ini terbang
hidupku kan terasa hampa jikaku tanpa dirimu ..
kau la permata hatiku ,..
penerang jalanku ..
penerang jiwaku ..

rasa rinduku padamu tak bisa lekang
sebelum kau menjadi milikku seorang
aku merindukanmu sayang ..

Pedih

Pedih

oleh Adrian Abies pada 28 Februari 2012 pukul 15:27 ·
Q hanya bisa terdiam,
Dan termenung
Saat q ingat smua knangan yg tlah qt lalui. .
Kini smua tinggal cerita indah masa lalu yang berakhir sedih di hati,,

Indah memang jika q ingat kita masih bersama. .
Tapi butiran2 air mata ini tak kunjung henti
Ceritakan smua kesedihan di hatiku. .
Saat q ingat bhwa saat itu ternyata hanya q yang mencintaimu. .
Saat q ingat cinta itu hanya miliku. .
Bukan milik qt. . Kau hanya berpura pura mencinta

Tapi Q tlah berikan sepenuh jiwaku. .
Q kembli terdiam
Tak henti lelehan
Air mata ini menemaniq. .

Q tlah membiarkan rasa ini tumbuh
Dan berakar di hatiku. .
Hingga sulit untuk musnahkan. . .

Q slalu coba tepis angan dan asaku. ,
Tapi bayangmu slalu menyambutku
membawaku dalam kerinduanku untukmu. . .
Dan inìlah bodohnya q. .

Yg tak pernah mengerti dan mau menyadari
bahwa q sebenarnya tlah kau sakiti. .

Atau mungkin karena q terlalu cinta. .
Tp biarlah,
Q iklhaskan dan q relakan semua ini. .
Dan q kan slalu mendo’akan untuk kebahagiaanmu. . . .

Karena q menyayangimu
Meskipun q tak pernah di hatimu

Kesetiaan

Kesetiaan

oleh Adrian Abies pada 8 Maret 2012 pukul 15:34 ·

Senang..
Saat awal ku mengenalmu
Saat dulu ku tau hanya aku yang kau harapkan
Saat kita masih sering berdua
Saat kau sering mengucapkan kata sayang

Bingung..
Saat ku harus memilih
Antara perintah dan perasaan

Inginku memilih kembali
Aku pastikan aku akan memilih perasaanku bersama mu
Bukan ku meninggalkan mu
Bukan ku mengorbankan perasaan ku demi sebuah kebaikan orang lain
Bukan ku menyia-nyiakan mu

Tapi kini,..
Saat kau mengenalnya
Saat kau mengharapkannya
Saat kau menjauhiku
Saat kau enggan mengucapkan kata sayang kepada ku

Dan kini…
Walau aku ingin dekat dengan nya
Walau aku tak mengenal nya
Tapi aku tak pernah menduakan perasaanku
Atas nama kesetian dan janji ku pada mu

Kini..
Saat kau tau ternyata dia memlih yang lain
Saat kau kecewa dengan nya

Dan aku..
Hancur berantakan
Tanpa arah

Aku bingung..
Apakah aku harus menerima kamu?
Di saat kau kecewa dengannya
Apakah aku harus mencari yang lain?
Di saat kau sedih
Apakah aku harus mempertahankan kesetiaan dan janji ini?
Di saat kau lupa ada aku yang selalu setia ...

Sabtu, 03 Maret 2012

ANTARA PERSAHABATAN & CINTA


ANTARA PERSAHABATAN & CINTA
Karya oleh :
“ D’aNgeL oF RizVia ”


SMP Nusa Bangsa yang semula terkesan damai dan syahdu, tiba-tiba pecah oleh hiruk pikuk para siswa. Semua pintu kelas telah terbuka lebar untuk siswa-siswi yang akan kembali ke rumah. Mereka tampak saling berebutan menuju halaman sekolah.
ANTARA PERSAHABATAN DAN CINTA
Di halaman sekolah, Livia, Zizy, A’yun, dan Qory sedang menunggu sahabat2 mereka yang lain, yaitu Arsya, Fian, Romi, Marvel, dan Nuri. Setelah kelima cowok itu datang, mereka segera pulang ke rumah bersama-sama. Itulah yang mereka lakukan setiap hari, berangkat sekolah, istirahat di kantin, bahkan pulang sekolah pun mereka bersama-sama, karena mereka semua bersahabat sejak kecil. Tapi lain bagi Arsya dan Marvel, karena Arsya adalah murid pindahan dari Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Marvel adalah mantan pacar Livia. Meski begitu, mereka tetap menjalin persahabatan dengan keduanya. Yah,, persahabatan sejak kecil, sekarang dan mungkin untuk selamanya.


Suatu hari di bulan April 2010, Livia mendapat masalah dengan pacarnya yaitu Arinal. Karena Arinal sudah tidak pernah menghubungi Livia lagi, dan itu yang membuat Livia menjadi sedih, Livia berpikir bahwa Arinal sudah tidak mencintai dia lagi, sudah berkali-kali Livia meminta pendapat pada ketiga sahabatnya, yaitu Zizy, A’yun, dan Qory, tapi mereka selalu meminta Livia untuk memutuskan hubungan dengannya dan mencari cowok yang lebih baik lagi, karena memang sudah sejak awal mereka tidak pernah menyetujui hubungan Livia dengan Arinal. Hingga Livia meminta pendapat pada sahabatnya yang lain, yaitu Arsya, Fian, dan Romi, tetapi jawaban mereka sama saja, Livia bingung dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Tetapi Arsya selalu menghiburnya, dia selalu memberikan motivasi kepada Livia, hingga sedikit demi sedikit hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab, dan kini Arsya lah yang menggantikan Arinal dalam inbox sms di hp-nya Livia. Dan lambat laun pula, timbul chemistry dalam hati mereka berdua.


Pada suatu hari, terjadilah pertengkaran antara Livia dengan Arsya, awalnya Arsya marah kepada Livia karena suatu hal, dan Livia sudah meminta maaf, tetapi Arsya berat untuk memaafkannya, hingga Livia nekat membohongi Arsya dengan cara menyamar menjadi seseorang yang bernama Vina agar dia bersedia memaafkan Livia. Awalnya Arsya percaya, dan pada suatu sore setelah pulang sekolah, hari itu hujan deras, Arsya meminta pada Livia untuk menemuinya di kebun belakang rumah, walau saat itu hujan deras, tapi Livia tetap datang dan dengan tubuh basah kuyup, disitulah Arsya memaafkan Livia. Setelah kejadian itu, hubungan mereka berdua kembali membaik seperti semula, hingga pada suatu hari, kebohongan Livia terbongkar, Arsya tahu bahwa selama ini Vina itu adalah Livia sendiri, dan Arsya berpikir bahwa Livia membohongi dirinya agar bisa memanfaatkannya untuk bisa memaafkan Livia, akhirnya terjadilah pertengkaran besar antara Arsya dan Livia, berkali-kali Livia meminta maaf pada Arsya tetapi Arsya menolak, hingga Livia pun menyerah dan dia membiarkan Arsya melampiaskan kekesalannya dengan cara menjauhi Livia dan berhenti menghubungi Livia. Sudah 1 minggu berlalu, Arsya masih tetap belum memaafkan Livia, dan pada suatu malam, Livia merenung sendiri di luar rumah, dia sedih karena sampai saat itu Arsya belum juga memaafkannya, dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu keputusan Arsya untuk mau memaafkannya, tanpa tersadar dia menangis, sambil menatap bintang2 di langit malam, dia berdo’a kepada tuhan agar Arsya mau memaafkannya, tiba-tiba Livia mendapat sms dari Fitri, temannya yang 1 rumah dengannya, Romi, dan juga Arsya. Dalam sms itu, Fitri bertanya2 tentang Arsya, setelah mengetahui kejadian yang di alami oleh Livia dan Arsya, Fitri menyuruhnya untuk menghubungi Arsya lewat sms, tetapi Livia menolak karena dia tahu bahwa Arsya tidak akan membalasnya, dan dia takut Arsya akan marah padanya. Tapi Fitri terus mendesaknya. Akhirnya Livia memberanikan diri untuk menghubungi Arsya kembali, dan tidak disangka, Arsya membalas sms Livia, dan pada malam itulah Arsya kembali memaafkan Livia, dan pada saat itulah Livia tahu bahwa Arsya lah yang mendesaknya untuk menghubunginya dengan berpura2 menjadi Fitri. Sejak kejadian itu, Arsya semakin tahu dan mengenal siapa Livia sebenarnya, Arsya mengetahui semua sifat luar dan sifat dalam Livia. Dan sejak kejadian itu pula, Livia semakin merasa bahwa dia punya perasaan dengan sahabatnya, Arsya.


Di bulan Juni 2010, saat liburan akhir semester, Arsya pulang ke kota asalnya, yaitu Indramayu, walaupun Arsya dan Livia berjauhan, tetapi mereka tetap berhubungan lewat sms, dan pada suatu hari Livia menyatakan perasaannya kepada Arsya, Dia berterus terang bahwa dia mulai jatuh cinta padanya sejak kejadian pertengkaran itu, Livia berkata bahwa dia tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia pikir perasaannya pada Arsya begitu kuat, dan ternyata Arsya membalas pernyataan cinta Livia, tak disangka bahwa Arsya pun mencintai Livia, tetapi sayangnya, cinta mereka tidak bisa bersatu, karena mereka berdua sama2 sudah ada yang punya, mereka berdua sama2 sudah mempunyai kekasih, dan mereka berdua juga tahu akan hal itu, akhirnya Arsya terpaksa memutuskan untuk tetap menjalin cinta dengan Livia tanpa status, dan tetap menjalani hubungan dengan kekasih masing2, dan Livia pun menyetujuinya karena sudah tidak ada cara lagi untuk mereka berdua, sedangkan mereka berdua sendiri tidak bisa mengakhiri cinta mereka begitu saja. Hal yang lain terjadi pada A’yun dan Fian, pada saat yang sama, Fian menyatakan cintanya kepada A’yun, tak disangka bahwa Fian sudah lama menyimpan perasaan cintanya itu selama 5 tahun, dan akhirnya A’yun pun menerimanya dan mereka resmi menjalin hubungan.


Yah, cinta yang berawal dari sebuah persahabatan. Dan hari-hari baru pun mulai mereka jalani bersama2. Sahabat2 mereka pun sudah mengetahui semua yang terjadi antara Livia dan Arsya dan mereka mendukungnya.


Seiring dengan berjalannya hubungan Livia dg Arsya, hubungan Livia dan Arinal tidak pula membaik, hubungan mereka semakin renggang, dan Livia pun semakin yakin bahwa yang dulu pernah dikatakan oleh ketiga sahabatnya itu adalah benar. Livia juga semakin yakin untuk memutuskan hubungannya dengan Arinal, tetapi Arsya selalu mencegahnya. Arsya tidak ingin Livia putus dengan Arinal yang disebabkan oleh kehadiran dirinya di tengah-tengah hubungan mereka berdua. Tetapi Livia tetap pada keputusannya. Awalnya Arsya mencegahnya, tetapi Livia meyakinkan Arsya bahwa keputusannya itu bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran Arsya dalam hidupnya, melainkan karena Livia memang sudah tidak lagi mencintai Arinal lagi, dan dia sudah terlanjur sakit hati karenanya. Akhirnya Arsya pun percaya dan mau menerima keputusan Livia dan sejak itu, status Livia menjadi single kembali.


Pada bulan Agustus 2010, Arsya pun mendapat masalah yang sama dengan kekasihnya Sella, hubungan mereka pun putus di tengah jalan, dikarenakan Sella terpaut hati dengan yang lain. Arsya sangat terpukul, dia sangat sedih dan kecewa dengan keputusan Sella, Arsya bingung harus bagaimana, dia pun menghubungi Livia dan menceritakan semua yang terjadi padanya, dalam hati Livia senang juga sedih, dia senang karena sudah tidak ada lagi yang memiliki Arsya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan Arsya, tapi di lain hati dia juga sedih melihat Arsya yang sedih dan terpukul karenanya, Livia tak sampai hati melihat Arsya terpuruk dalam kesedihan seperti itu, Livia pun bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa menghibur Arsya lewat sms, karena saat itu Arsya tak lagi bersamanya, Arsya kembali ke Indramayu, berkali-kali dan berhari-hari Livia terus menghibur Arsya, hingga Livia pikir Arsya mampu melupakan Sella begitu juga dengan kenang2annya. Tapi ternyata, tak semudah itu bagi Arsya untuk menjauhi Sella, bahkan melupakannya. Sudah 4 bulan berlalu sejak tragedi cinta Arsya di bulan ramadhan, hubungan Livia dengan Arsya pun semakin dekat, semakin membaik, dan semakin serius, tetapi Arsya masih belum bisa untuk menjadi milik Livia sepenuhnya, Livia pun hanya bisa pasrah menerima keadaan cintanya saat ini, karena dia tak mau terlalu memaksa Arsya untuk menjadi milik dia sepenuhnya. Pada bulan November 2010, Livia, Arsya, Fian dan semua sahabatnya merayakan hari ultah A’yun di rumahnya. 2 hari sebelum hari H, Livia dan sahabatnya yang lain merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan pada A’yun, dan ternyata kejutan itu pun sukses besar, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk A’yun dan Fian, Livia dan Arsya, dan juga sahabat2nya yang lain. Dan pada bulan ini juga, menjadi bulan yang sangat membahagiakan bagi Livia dan Arsya, karena di bulan ini, hubungan mereka semakin tumbuh harum mewangi, Arsya semakin menyayangi Livia, dari hari ke hari, sikap Arsya pada Livia pun semakin mesra dan romantic, begitu juga dengan Livia. 


Tetapi sayangnya, keadaan itu tidak bertahan lama, mulai memasuki bulan Januari 2011, hubungan mereka pun renggang dikarenakan Livia mendengar kabar bahwa Arsya kembali dekat dengan mantan pacarnya, yaitu Sella. Kabar tersebut membuat Livia sangat kesal, bahkan Arsya pernah berduaan dengan Sella di depan kelas Livia, dan Livia melihatnya ketika kelas bubar, hingga Livia tidak mau keluar dan itu membuat teman-temannya keheranan.




“Kenapa kamu Liv..? koq nggak jadi keluar.. padahal kan kamu tadi bersemangat banget pengen pulang..” Kata Bella. “Tuh, liat aja sendiri, ada pemandangan yang bikin sakit hati.!!” Kata Livia kesal. Lalu Bella pun keluar dan melihat Arsya berduaan dengan Sella, dan menyindir mereka, “Ehm2, pacaran koq di sekolahan sich.. Inget2, ini sekolah, bukan tempat pacaran..!!” Sindir Bella. Dan mereka berdua pun pergi. Saat sampai di rumah, Arsya mendekati dan menggoda Livia, tetapi Livia malah menampakkan wajah kesalnya, hingga membuat Arsya terheran-heran dan bertanya pada Livia.


“Dek, kenapa sich..?? koq cuek gitu,,,” Tanya Arsya.


“Tau dech, pikir aja sendiri,,!!” Kata Livia kesal.


“Iiicch, marah ya.. Ada apa sich emangnya..??” Tanya Arsya bingung.


“Huh, udah puas ya tadi berduaan di depan kelas..!! Nggak tau malu banget sich..!! Bikin sakit hati aja..!!” Kata Livia marah.


“Berduaan..?? Ya ampun.. Jadi gara2 itu.. Gitu aja koq marah sich..” Kata Arsya.
  
“Kamu ini gimana sich, gimana nggak marah coba,! Aku pikir kamu udah bisa lupain si Sella, tapi ternyata ini malah berduaan, di depan kelas aku lagi,,!! Gila kamu ya..!!” Kata Livia yang semakin marah.


“Ya udah, aku minta maaf dech,, nggak akan ngulangin yang kayak gitu lagi,, maafin aku ya dek..” Kata Arsya meminta maaf.
  
“Tau ah..!! Udahlah, males aku ngomong sama kamu..!!” Kata Livia berlalu.


”Tunggu2.. Jangan gitu donk,, aku kan udah minta maaf, iya2 aku janji, maaafin aku ya My Princess..” Bujuk Arsya.


“Ya udah iya, aku maafin, tapi bener ya jangan di ulangin lagi, janji..!!” Kata Livia sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


“Iya, aku janji adekku tersayang..” Kata Arsya membalas. “Nah, sekarang senyum donk.. jangan cemberut gitu, jelek tau..” Kata Arsya lagi sambil mencubit pipi Livia.


“Hufft, iya sayang…” Kata Livia tersenyum senang.


Setelah kejadian itu, hubungan mereka pun kembali normal. Dan dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua saling menyayangi, dan cinta mereka berdua begitu kuat, dan tak bisa terpisahkan. Dan mereka pun menjalani hari-hari indah seperti biasanya. 


Pada bulan Februari 2011, terjadi pertengkaran kembali antara Livia dan Arsya, karena Arsya melihat dan mengetahui bahwa Livia kembali berkomunikasi dengan mantan pacarnya yaitu Marvel, Arsya cemburu begitu melihat Livia SMS_an dengan Marvel, Livia yang mengetahuinya segera meminta maaf pada Arsya, tetapi Arsya diam saja, seakan-akan dia tak mau memaafkan Livia, 5 hari Livia menjalani hari tanpa Arsya di sampingnya, Livia sedih dan meminta maaf kembali pada Arsya, bahkan Livia berkata bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengan Marvel, tak akan membalas sms Marvel lagi, dan bahkan akan menghapus nomer Marvel dari kontak HPnya, setelah mendengar pernyataan Livia itu, Arsya pun akhirnya mau memaafkan Livia. Dan pada bulan ini, LPP (Language Progress Program) di sekolah mereka mengadakan tour di Jogjakarta untuk menyelesaikan tugas terakhir mereka yaitu conversation dengan turis2 yang ada disana. Tetapi kini, hanya Livia dan Qory yang ikut, karena A’yun dan Zizy sudah sejak awal tidak mengikuti LPP. Saat berada dalam bis, Livia menghubungi Arsya, dia meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Arsya tadi saat di rumah, dan disitulah Livia berpamitan dengan Arsya, sekaligus meminta do’a agar selamat sampai tujuan juga selamat sampai di rumah dan agar lancar dalam menjalankan tugasnya saat disana. Setelah itu mereka melanjutkan SMS_annya, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa dalam bis itu dia sangat kedinginan, sedangkan sweaternya ada di dalam tas dan Livia tak bisa mengambilnya karena sweater itu ada di dasar tas, Arsya pun memberikan perhatiannya pada Livia dengan menyuruhnya untuk mengambil sweater itu meskipun ada di dasar tas, demi Livia agar tidak kedinginan lagi, dan selama dalam perjalanan tour itu Arsya selalu memberikan perhatian pada Livia hingga Livia kembali. Livia juga tidak lupa untuk memberi Arsya dan sahabat2nya oleh-oleh dari Jogja. Saat di Malioboro, Livia membelikan kaos hitam Jack Daniel dan souvenir berupa gantungan segitiga yang di dalamnya terdapat miniatur candi borobudur untuk Arsya. Begitu juga dengan sahabat2nya. Livia juga membelikan oleh-oleh berupa bakpia untuk sahabatnya juga untuk keluarganya, Livia pun sampai di rumah kembali pada pagi harinya.


Dan pada bulan Maret 2011, tepatnya pada tanggal 4 dan 5, Livia, Zizy dan A’yun pergi ke Malang untuk mengikuti Tes Penerimaan Siswa Unggulan Baru di MAN 3 MALANG, sebelum pergi, Livia menyempatkan untuk berpamitan dengan Arsya dan meminta dukungannya sekaligus do’a untuknya, begitu juga dengan A’yun dengan Fian, mereka juga meminta dukungan dan do’a kepada semua teman dan sahabatnya. Dan pada tanggal 10, Livia melihat pengumuman kelulusan tes tersebut, tapi ternyata, Livia, Zizy dan A’yun tidak lulus, Livia pun membicarakan hal itu dengan Arsya lewat sms, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa mereka bertiga tidak lulus dan Livia sangat sedih, lalu Arsya pun menghiburnya dengan berkata bahwa tidak semuanya yang kita inginkan bisa tercapai, dan itu semua membutuhkan proses, Arsya mengakui bahwa Livia adalah cewek yang pintar dan cerdas, dan Arsya yakin bahwa Livia dan yang lainnya pasti bisa diterima pada tes regulernya, Arsya berkata bahwa dia bangga bisa mempunyai cewek seperti Livia yang pintar, karena dia tahu kalau Malang itu adalah tempat sekolahnya anak-anak yang pintar,, mendengar hal itu, Livia menjadi semangat dan tidak bersedih lagi, Livia pun berterima kasih pada Arsya karena sudah memberinya dukungan dan semangat.


Pada tanggal 23 Maret, Livia merayakan ultahnya bersama dengan Arsya, A’yun, Fian, Romi, Bella, dan Ana. Dua hari sebelumnya tepatnya tanggal 21 Maret, A’yun mempunyai rencana untuk ngerjain Livia habis2an, saat malamnya, Livia mengirim SMS pada Arsya, tetapi Arsya tidak membalasnya, setelah agak lama, Arsya membalas dan meminta maaf karena dia telat, Arsya berkata bahwa dia keasyikan SMSan dengan Lia, cewek Indramayu tetangganya, Livia pun kesal dan marah pada Arsya, dan saat itu juga, A’yun sms Livia, dia berkata bahwa dia sangat marah sekali dengan Arsya karena siang tadi Arsya mencubit pipinya di depan Fian, dan sekarang A’yun bertengkar dengan Fian, A’yun pun meminta tolong pada Livia agar Livia mau membantunya membicarakan masalah ini dengan Arsya, Livia pun bingung harus bagaimana, karena saat itu Livia juga sedang bermasalah dengan Arsya. Keesokan paginya, Livia bertemu dengan A’yun di sekolah, A’yun marah2 pada Livia karena perbuatan Arsya kemarin, Akhirnya Livia berjanji untuk membantunya, saat itu juga, Arsya ngerjain Livia lagi, sehingga membuat Livia makin sedih, dan malam harinya, Livia berkata pada Arsya lewat SMS tentang masalah A’yun itu, lalu Arsya meminta nomer A’yun untuk meminta maaf, setelah agak lama, Livia merasa sudah mengantuk dan dia ketiduran, tapi Arsya membangunkan Livia, Arsya melarang Livia tidur karena Arsya kesepian dan tak bisa tidur, Arsya meminta Livia untuk tetap menemaninya malam itu, Livia pun terpaksa menyetujuinya. Pada pukul 12.00 malam tepat, Hp Livia berdering, seseorang menelponnya, dia memakai privat number, Livia pun mengangkatnya, “Surprise..!!!” Ternyata itu adalah Arsya, Arsya mengucapkan met ultah pada Livia, Livia sangat bahagia sekali, Arsya bercerita bahwa Lia, dan masalah A’yun dan Fian itu adalah bagian dari sandiwara mereka untuk memberikan surprise ini padanya, Arsya juga berkata bahwa dia menelponnya karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan met ultah ke Livia. Pada keesokan harinya tepatnya tanggal 23 Maret, setelah pulang sekolah, Livia, Ana, Bella, dan teman2 lainnya yang tergabung dalam kelompok dance Livia mengadakan latihan di rumahnya, saat perjalanan menuju rumah Livia, Ana menyiram Livia dengan air yang dibawa oleh Ana dari rumah, Livia sangat terkejut, tapi Livia tak bisa lari, setelah sampai di rumah, Ana menariknya sampai di kamar mandi dan menyiram Livia kembali, Livia sangat malu, karena disitu ada Arsya dan Fian. Setelah itu Livia mengganti bajunya dan mulai latihan kembali. Tiba2 A’yun datang, dan langsung menuju ke atas menemui Fian pacarnya, Arsya dan Romi, setelah itu dia turun lagi menemui Ana dan meminta Ana untuk menemaninya ke atas. Setelah agak lama, Ana kembali turun memanggil Livia dan mengajaknya ke atas juga, saat di atas, Ana mengajak Livia untuk membicarakan sesuatu tentang kelompok dancenya di luar, tiba2 dari belakang Arsya menyiramnya, disusul dengan siraman dari A’yun, Fian, Romi, Ana dan Bella, Livia sangat terkejut juga bahagia, setelah penyiraman selesai, tiba2 Arsya datang di hadapan Livia dengan membawa sebuah kado di tangannya. Arsya mengucapkan met ultah sekali lagi pada Livia, dan memberikan kado tersebut padanya, dan Arsya menyuruh Livia untuk membukanya. Dan ternyata isinya adalah sebuah jam tangan dan di dalamnya terdapat surat, Livia pun membacanya, dan Arsya meminta Livia untuk segera memakai jam tangan itu, tetapi Livia menolaknya karena jam tangan itu terlalu besar untuk ukuran tangan Livia, tetapi Livia berjanji akan segera memakainya, setelah itu A’yun dan Fian yang memberinya kado, isinya adalah 1 boneka semut besar, 1 boneka teddy kecil dan gantungan. Setelah semua teman2 Livia sudah pulang, Marvel , mantan pacar Livia datang untuk mengucapkan met ultah pada Livia. Setelah agak lama mengobrol, akhirnya Marvel pun pulang. Malam harinya saat SMSan, Arsya berkata bahwa dia sangat bahagia karena bisa merayakan hari ultah Livia, dia berkata bahwa dia sangat bahagia ketika melihat Livia tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi dan berharap bahwa hari bahagia itu akan selalu terjadi, sehingga Arsya selalu bisa melihat Livia tersenyum selalu. Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan buat Livia, Arsya, dan sahabat2nya.


Pada akhir bulan Maret 2011 itu, Livia dan Arsya juga semua sahabat2nya mengikuti ujian Try out UN. Dan pada tanggal 9 April, Livia mengajak Fian untuk ikut memberikan surprise di hari ultah Arsya, pada pukul 10.00, Livia naik keatas untuk menemui dan memberikan kejutan itu untuk Arsya, dengan membawa kue ultah buatannya sendiri, disertai dengan nyanyian ultah ala Livia, membuat Arsya terkejut dan tersentuh hatinya, setelah itu Livia menyuruh Arsya untuk meniup lilinnya dan memakan kuenya, tetapi Arsya malah memberikan potongan kue pertamanya tersebut pada Livia dan menyuapinya, setelah itu baru Arsya meminta Livia untuk balik menyuapinya, Livia sangat bahagia, begitu juga Arsya yang merasa bahagia dengan adanya surprise dari Livia. Setelah agak lama, tiba2 Fian datang dan langsung melempar tepung yang ada di genggamannya pada Arsya, belum puas dengan lemparan tepung itu, Fian pun melemparkan tepung itu juga pada Livia, hingga mereka berdua sama-sama belepotan karena lemparan tepung itu, saat melihat Livia yang wajahnya penuh dengan tepung, Arsya pun tertawa dan mengusap wajah Livia dengan tangannya, membersihkan tepung itu dari wajahnya, begitu juga Livia, dia pun mengusapkan tangannya pada wajah Arsya yang penuh dengan tepung. Setelah selesai membersihkan wajah masing-masing, Arsya menggenggam tangan Livia dan berterima kasih pada Livia karena telah memberikan surprise itu padanya, dia berkata bahwa dia sangat bahagia sekali hari itu, lalu Arsya mencium kedua tangan Livia hingga membuat Livia tersipu malu. Dan pada awal bulan Mei, Arsya meminta izin pada Livia untuk pergi, pulang ke rumah asalnya di Indramayu. Awalnya Livia berpikir untuk tidak mengizinkan Arsya pergi, tetapi Livia memikirkan kebahagiaan Arsya juga, Livia berpikir bahwa Arsya butuh istirahat di rumah asalnya, dan akhirnya Livia pun mengizinkannya. Dan Arsya pun berterima kasih pada Livia dan mencium pipi Livia. Livia tersipu malu dan merasa bahagia. Tepat di hari perginya Arsya, Livia diminta oleh sahabatnya Fian untuk menemani dia mengantar kepergian Arsya ke stasiun. Awalnya Livia ragu2 karena pada saat itu adik Livia sakit keras dan Livia diminta untuk menjaga adiknya itu di rumah sakit. Karena Livia tidak ingin melewatkan kesempatan indah itu, akhirnya Livia meminta izin pada kedua orang tuanya dengan alasan reuni alumni, dan Livia pun ikut mengantar kepergian Arsya ke stasiun bersama dengan Fian. Sebenarnya Arsya tidak mengizinkan Fian untuk mengajak Livia ikut serta mengantarnya karena dia takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya saat di jalan nanti, tetapi Fian tetap bersikeras untuk mengajak Livia dan dia berkata bahwa tidak akan terjadi apapun pada Livia dan dia juga berjanji untuk menjaga Livia saat di jalan nanti, dan akhirnya Arsya pun menyetujuinya dengan terpaksa. Saat tiba di stasiun, Arsya pun mengucapkan kata terakhirnya sebelum meninggalkan Livia pergi. Dia berpesan pada Livia untuk selalu menjaga kesehatannya selama tak ada Arsya disampingnya, dan selalu mengingat Arsya dimanapun dan kapanpun, dan akan selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk Arsya sampai saatnya Arsya kembali. Livia pun menyetujuinya dan berjanji akan melakukan semua yang diminta oleh Arsya. Begitupun sebaliknya dengan Arsya. Kemudian Arsya pun mencium pipi dan kening Livia dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Dan setelah itu Arsya pergi meninggalkan Livia dan Fian menuju kedalam peron. Setelah Arsya masuk, Livia dan Fian pun pulang.


Satu minggu berlalu Livia jalani hari-harinya tanpa Arsya, tapi walaupun mereka berjauhan, mereka tetap saling memberi kabar, saling sms_an, saling merindu, dan masih tetap saling menjaga perasaan masing-masing. Tetapi, kebahagiaan yang Livia rasakan tidak bertahan lama, sampai suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka hancur berkeping-keping.


Satu minggu sudah Livia menanti kabar dari Arsya yang tak kunjung membalas satupun sms dari Livia. Livia sangat sedih dan tak hentinya memikirkan Arsya. Sampai suatu hari, Livia mengirim sms pada Arsya yang berisi bahwa Livia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan yang sudah dia alami, Dia berkata bahwa lebih baik Livia pergi dari hidup ini dan tak kembali untuk selama-lamanya, dan Livia pikir Arsya akan tetap bahagia dan mungkin akan lebih bahagia jika melihat dan mendengar bahwa dirinya sudah tiada, dan tidak akan ada lagi yang mengganggu kehidupannya, dan terakhir Livia mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada Arsya. Disertai dengan tangisan dan keputus-asaan, Livia mengirimkan sms itu pada Arsya dan mulai mengambil sebuah cutter yang digunakan untuk melukai lengannya sendiri. Tapi sayangnya, Arsya tidak menggubris sms Livia, Livia semakin sedih dan semakin menggores lengannya. Sahabatnya, A’yun dan Fian yang mengetahui hal itu langsung mengirim sms pada Livia dan bertanya apa yang terjadi padanya. Tapi Livia tidak menjawabnya, A’yun dan Fian semakin takut jika terjadi hal yang buruk yang menimpa Livia. Esok paginya, A’yun dan Fian datang ke rumah Livia untuk memastikan keadaan Livia, saat A’yun masuk ke kamar Livia, A’yun menemukan Livia tergeletak dengan lengan penuh darah, A’yun terkejut dan menjerit hingga Fian datang menyusul ke kamar, begitupun dengan Fian, dia sangat terkejut melihat Livia tergeletak lemas disana. Lalu tanpa pikir panjang, A’yun segera menyuruh Fian untuk mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Livia pun dirawat dan dokter berkata bahwa Livia kehilangan banyak darah, hingga dia harus melakukan transfusi darah dan sayangnya, persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. A’yun dan Fian terkejut, mereka sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya, Livia. Mereka semakin sedih saat tahu bahwa darah mereka tidak ada yang cocok untuk di donorkan pada Livia dan satu-satunya orang yang darahnya cocok untuk di donorkan darahnya hanyalah Arsya. Fian pun bertanya pada dokter sampai kapan Livia bisa bertahan menunggu adanya donor darah tersebut, dan dokter pun menjawab bahwa Livia masih bisa bertahan selama 3 jam. Mendengar pernyataan dari dokter, Fian segera menelpon Arsya dan memberi kabar padanya tentang keadaan Livia yang kritis saat ini. Setelah berbicara panjang lebar, Fian kembali dengan tangan kosong, tanpa hasil, Arsya tidak bisa datang saat itu juga karena sibuk, dan meminta maaf pada mereka karena tidak bisa menolong Livia. Fian sangat kecewa dan sangat marah pada Arsya, tetapi A’yun menenangkannya dan mengajak Fian untuk tetap mencari donor darah untuk Livia. Saat A’yun dan Fian sudah hampir menyerah dan waktu sudah hampir habis, tiba2 Marvel datang dan berkata bahwa darahnya cocok dengan Livia dan dia bersedia untuk mendonorkan darahnya pada Livia. A’yun dan Fian sangat senang dan meminta Marvel untuk menemui dokter. Setelah tranfusi darah selesai dilakukan, dokter berkata bahwa keadaan Livia berangsung-angsur membaik. Mereka bertiga pun senang dan bersyukur bahwa sahabatnya akan sembuh, A’yun dan Fian juga berterima kasih pada Marvel telah membantu mereka juga Livia. Dan mereka pun bergantian menjaga Livia di rumah sakit. 3 hari sudah Livia jalani hari-hari buruknya di rumah sakit dan kini dia sudah kembali ke rumah. A’yun pun bertanya pada Livia apa yang terjadi padanya, dan mengapa Livia menggoreskan cutter tajam ke lengannya sendiri. Livia pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Arsya. Mendengar cerita Livia, Fian jadi semakin marah pada Arsya, tiba2 Livia menerima sms dari Arsya, dalam sms itu, Arsya marah2 pada Livia karena sms Livia dulu, dia berkata bahwa saat itu Arsya pergi jalan2 dengan teman2nya disana dan dia tidak membawa hp, hp nya dia tinggalkan di rumah dan sms Livia saat itu di buka dan dibaca oleh orang tua Arsya, hingga saat Arsya pulang, orang tuanya memarahi Arsya. Livia sangat sedih dengan sms Arsya, dia sedih kenapa Arsya tidak bisa memahami keadaan Livia dan malah memarahinya saat dia baru saja melewati masa-masa buruknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan Livia, akhirnya Arsya berkata pada Livia bahwa lebih baik hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja, tidak lebih karena Arsya menyadari bahwa dirinya tidak bisa membahagiakan Livia dan malah membuatnya terluka, Livia pun tidak setuju dengan pernyataan Arsya dan berkata bahwa selama ini Livia tidak pernah merasa dilukai oleh Arsya dan semua yang terjadi padanya itu bukan semata-mata karena Arsya, tetapi karena kesalahan dirinya sendiri. Livia juga meminta maaf pada Arsya karena telah membuat dia dimarahi oleh orang tuanya dan meminta Arsya untuk menarik kata-katanya tadi. Livia juga menjelaskan bahwa jika Arsya merubah hubungan mereka menjadi sebatas teman biasa saja, Livia akan semakin sedih dan terluka, Livia akan lebih bahagia jika masih tetap bisa bersama dengan Arsya hingga sampai tiba saatnya nanti mereka harus berpisah. Arsya bingung dan tak bisa memutuskan hari itu juga, dan Arsya pun mohon diri pada Livia untuk mengakhiri sms tersebut. Dan diakhir sms, Arsya masih memberikan kiss bye nya untuk Livia. 1 hari setelah kejadian itu, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan Livia sangat bersyukur karena Arsya masih mau membalas sms nya, dan Arsya masih mau memaafkan Livia dan tetap mengizinkan Livia untuk memanggilnya dengan sebutan “Maz”. Dan 2 hari setelah itu, Livia dan Fian mengikuti rekreasi ArSemA(Arek Sembilan A) ke Malang dengan tujuan ke beberapa tempat, yaitu Masjid Turen, Wendit, Pasar Lawang dan terakhir adalah Wisata makam Sunan Ampel di Surabaya. Awalnya Livia pergi dengan perasaan bahagia, karena dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman2 dan sahabat2nya. Saat perjalanan pulang, dia mencoba untuk menghubungi Arsya karena saat itu dia sangat merindukan Arsya. Tetapi ternyata Arsya menjawab sms itu dengan jawaban yang tidak pernah diharapkan oleh Livia, di sms itu dia malah memarahi Livia karena dia masih memanggil namanya dengan sebutan “Maz”, dan Arsya meminta pada Livia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu lagi, Livia sangat sedih dan meminta maaf pada Arsya dan mencoba untuk menjelaskannya tetapi Arsya tidak peduli dan malah mengakhiri sms itu. Livia benar2 sedih dan menceritakan kejadian itu pada sahabatnya, Fian. Fian terkejut dan mencoba untuk membantu Livia karena dia merasa kasihan dengannya, Fian mencoba untuk menghubungi Arsya tetapi semuanya sia-sia, karena Arsya sama sekali tidak menggubris mereka. Livia semakin sedih, melihat hal itu, Fian segera menghubungi A’yun untuk datang menghibur Livia, tetapi semua itu juga sia-sia. Berkali-kali Livia mencoba menghubungi Arsya, tetapi Arsya benar-benar tidak memperhatikannya, bahkan Livia sempat berpikir bahwa Arsya sudah tidak mencintainya lagi, dia berpikir bahwa Arsya sudah memiliki kekasih hati yang baru, yang membuat Livia semakin sedih, hancur dan terluka. Pada malam harinya, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan akhirnya Arsya mau mengangkatnya, dan disitu Livia meminta maaf pada Arsya atas semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini, dan menanyakan sebab Arsya tidak mengizinkannya lagi memanggil dengan sebutan “Maz”. Tetapi Livia malah mendapatkan jawaban yang tidak pernah diinginkan olehnya. Arsya memaafkan tetapi dia tidak mau memberikan alasan kenapa dia tidak lagi mengizinkan Livia memanggilnya dengan sebutan “Maz” lagi, Arsya hanya berkata bahwa lebih baik hubungan mereka berdua hanya sebatas teman biasa saja, dan tak bisa melanjutkannya lagi, dan mengenai alasan, Arsya tidak mau menjawabnya, dia hanya diam saja. Livia sangat sedih dan mencoba membujuk Arsya, Livia berusaha untuk membuat Arsya merubah keputusannya, tetapi Arsya tidak peduli dan tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Livia meneteskan airmatanya, dan menangis memohon2 pada Arsya, tetapi sayangnya Arsya tidak bisa merubah keputusannya itu, dan Arsya pun mengakhiri pembicaraan itu. Sepeninggal Arsya, Livia terus meneteskan airmatanya hingga membuat matanya bengkak. Livia sangat sedih dan terpukul saat mendengar langsung keputusan Arsya untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah terlanjur mereka jalani dengan hati yang tulus dan suci.


Esok paginya, Livia menceritakan semua kejadian yang telah dia alami pada sahabat2nya, mereka semua sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang Livia ceritakan. Fian, Marvel, A’yun dan Qory geram pada Arsya atas apa yang sudah dia lakukan pada Livia. Dulu, mereka sangat mempercayai Arsya untuk menjadi pengganti Arinal, untuk menjadi kekasih hati Livia, mereka sangat mendukung Arsya, tetapi sekarang, mereka benar2 geram pada Arsya dan merasa menyesal telah mempercayakan semua itu pada Arsya. Fian dan Marvel adalah orang yang pertama kali merasa kecewa dan marah pada Arsya, karena Fian mewakili ke-4 sahabat Livia pernah memberikan kepercayaan seutuhnya pada Arsya untuk selalu menjaga Livia, menjaga hati juga cintanya, tetapi semua itu malah di salah gunakan oleh Arsya dan mengkhianati Livia. Sedangkan Marvel, sebagai cinta pertama Livia dan orang yang pernah mengisi relung hati Livia yang juga telah memberikan kepercayaan pada Arsya untuk selalu menjaga dan mencintai Livia sepenuh hatinya, dan memberikan janji untuk tidak menyakiti hati Livia dan mengkhianatinya. Kemudian, mereka mencoba untuk menghibur Livia dan berkata untuk tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya, karena mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Arsya itu demi kebahagiaan Livia juga. Akhirnya Livia pun mendengarkan nasihat sahabat2nya dan mencoba untuk menerima semua takdir yang telah diberikan untuknya dan Livia juga akan selalu menanti kedatangan Arsya kembali.


2 Minggu kemudian, terdengar kabar bahwa Arsya telah kembali dan hal itu membuat Livia senang, tetapi Livia kembali teringat dengan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua, hingga membuat Livia kembali bersedih dan mencoba untuk menjaga jarak dengan Arsya. Saat itu, adalah hari2 terakhir Livia bisa berkumpul dan bertemu dengan teman2nya, yaitu Romi dan terutama dengan Arsya, karena 3 hari setelah itu, akan diadakan acara wisuda tahun 2010/2011 di sekolah Livia. Sebenarnya Livia ingin menciptakan lebih banyak kenangan manis lagi dengan sahabat2nya, begitu pula dengan Arsya, tetapi hal itu sangat tidak mungkin, mengingat hal yang sudah terjadi antara Livia dan Arsya, hingga Livia pun menyerah dan tak mau memaksakan kehendak Arsya, walaupun begitu dia juga harus tetap bersyukur karena pernah diberikan kesempatan yang sangat tak ternilai harganya dan tak terhitung banyaknya untuk bisa menciptakan kenangan manis itu berdua dengan Arsya.


Tibalah saatnya untuk Livia berpisah dengan semua sahabat2nya setelah acara prosesi wisuda selesai. Saat di pertengahan acara, Livia sempat menangis sesenggukan karena mengingat banyaknya kenangan manis yang telah mereka buat bersama yang saat itu juga harus dia tinggalkan. Dan pada akhir acara, Livia tak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto ria bersama sahabat2nya, bercanda dengan mereka untuk yang ke terakhir kalinya sebelum mereka semua pergi meninggalkannya begitu juga sebaliknya. Tetapi hanya 1 orang yang menolak untuk foto dengannya saat itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Arsya sendiri, padahal Fian, Romi, Marvel, dan Nuri mau memberikan kesempatan pada Livia untuk foto bersama diri mereka secara bergantian, setelah Arsya dibujuk rayu dan akhirnya dia tetap menolak ajakan itu, Livia pun menyerah dan membiarkan Arsya dalam kesenangannya sendiri. Dari jauh Livia menangis melepaskan kepergian Arsya dan dari jauh pula Livia mengucapkan selamat tinggal pada Arsya untuk selama-lamanya.
===== THE END =====


Read more: http://cerpen.gen22.net/2012/02/antara-persahabatan-dan-cinta.html#ixzz1o4THASoH

PENANTIAN CINTAKU



 Oleh: Rian sulaeman farhi 

Penantian kata itu yang selalu terucap di bibir ku,hanya berharap dan menanti kau datang dan mengambil cinta dariku. Awal bulan February pun telah berlalu hampir 3 bulan lebih aku menantinya berharap apa yang aku nanti bisa ku dapatkan kembali. Namun apa semua nya di luar dugaan ku,tak kusangka penantian ku selama 3 bulan ini akan menjadi sia-sia hanya karna kau telah mempunyai cinta yang lain.
Kecewa,terluka yang aku rasakan saat itu. Hamparan penantian kosong yang kini masih tertinggal di kehidupan ku, tak tau apa yang harus aku lakukan lagi semua nya terasa berat aku jalani.

Hari-Hari ku yang dulu ceria kini menjadi suram aku hanya bisa terdiam membisu memikirkan apa yang telah terjadi padaku, seakan-akan aku tak percaya dengan semua ini, sesekali aku berfikir mungkin ini hanya mimpi bukan kenyataan. Namun setelah aku terbangun ternyata semua nya bukan mimpi, kini kau telah bahagia dengan cinta yang lain.

Saat itu aku yang duduk di kelas XII di sebuah sekolah swasta di daerah plered-purwakarta. Mengalami defresi berat karna semua di luar dugaanku. Kehadiaran ku di sekolahan pun menurun, aku yang tadinya tak pernah membolos kini sering membolos hanya karna memikir kan cinta dan wanita saja. Surat dari kepala sekolah dan guru BP pun berdatangan. 

“Asslamualikum.wr.wb.”

Kepada orang tua murid saya selaku wali kelasnya Rian Sulaeman Farhi meminta ibu/bapak untuk hadir kesekolah membicarakan kehadiaran rian selama 1 bulan ini.

Begitu lah isi surat panggilan untuk orang tua ku dari sekolahan ku yang sempat aku baca. Sesampainya surat itu kepada kedua orang tua ku mereka marah besar kepada ku,kecewa dangan apa yang telah aku lakukan sehingga surat panggilan dating dari sekolah.

Aku yang sedang duduk di kursi saat itu sambil mengotak-atik Hp ku tiba-tiba . . . . 
“GUPRAKKKKKKKKKK” . . . .

Sebuah suara di atas meja yang ada di depan ku, saat aku lihat ternyata tangan mama yang sedang memukul meja dengan sebuah surat di tangan. Kaget saat aku melihat nya.

“ini yang di namakan sekolah . . . . . .?” Terdengar jelas di telinga ku suara kemarahan dari mama,
aku hanya bisa terdiam saat itu menyesali apa yang telah aku lakukan. Mengecewakan sosok seorang mama.

“maafin aku mama . . .” Ucapaku dalam hati kecil ini,

Terdengar mama menangis seperti tak percaya dengan apa telah aku lakukan. Hanya gara-gara sebuah cinta dan wanita aku harus melihat mama menetes kan air mata. Saat itu aku mencoba untuk melupakan apa yang 3 bulan lalu terjadi, kini mama udah kembali lagi ceria dan mau memaafkan kesalahan ku.

“aku janji sama mama aku gak akan ngecewain lagi mama dan buat mama meneteskan air mata untuk yang kedua kali nya” Kata itu yang aku ucapkan kepada mama.

“makasih nak, belajar lah yang rajin mama gak mau liat kamu susah. Karena kehidupan sesungguhnya akan kamu rasakan nanti setelah kamu berkeluarga.” Jawab mama yang penuh senyum dan sambil mengelus pundak ku, seperti mama gak mau melihatku mempunyai beban.

* * *
Mentari pagi pun mulai terbit seperti biasa mama yang selalu bangunin aku buat sekolah, sesampainya aku di sekolah dan duduk di kelas hanya lamunan yang aku perlihat kan kepada temen-temen dan semua orang.

Terlalu pahit penantian ku terhadap mu,hamparan luka yang kini aku terima walau pun aku udah janji sama mama untuk melupakan itu semua namun sulit bagiku, bayangan nya selalu menghantui hidup ku semakin aku mencoba melupakan nya semakin sakit hati ini. Seperti tak ada cara lain hanya diri mu yang mampu mengobatinya. Sesampai nya aku di rumah lamun lagi yang aku perlihatkan, sesekali mama memperhatikanku.

“anak ku lagi terluka dan patah hati” Goda mama kepada ku.

“apaan sich mama ini . . .” Jawab ku sambil sedikit tersenyum karna gak mau melihat mama ikut sedih.

“udah gak usah bohong sama mama, mama juga tau kok. Karena mama juga kan pernah muda kaya kamu, jadi pernah ngalamin.“ Jawab mama sambil menghibur ku agar aku gak terus-terusan terpuruk dalam kesedihan.

“bener gak ada apa-apa kok mama , , , , !!!!! ya, iya atuh mama pernah muda masa mama tua dulu sich?” Balas ku menggoda mama.

Obrolan pun berlanjut tak terasa sore pun telah tiba,saking asyik nya ngobrol ama mama sampai-sampai aku lupa tadi mau makan siang. Canda tawa yang tadi bersama mama hilang sudah saat aku kembali ingat sosok bayangan nya lagi, entah kenapa bayangan nya terus menghantui, rasa rindu kepadanya pun semakin menjadi walau aku tau dia kini bahagia bersama orang lain. Hanya penantian dan harapan yang masih aku simpan untuk nya walau aku sendiri tak tau sampai kapan penantian ini akan berakhir.


Read more: http://cerpen.gen22.net/2012/02/cerpen-remaja-penantian-cintaku.html#ixzz1o4BkIeWd